SATUHARAPAN.COM – Seorang teolog katolik, Hans Kung, pernah mengungkapkan, tidak ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama, tidak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama. Ucapan
Hans Kung mengingatkan kita bahwa agama memiliki peran dan tanggung
jawab yang besar di dalam membangun peradaban dunia. Agama mejadi mati
dan ‘mandul’, apabila hidup dalam sekat-sekat primodialisme. Dia (baca:
agama) menjadi kering, tanpa ruh, tanpa napas, kaku, apabila tidak
bersinggungan dengan dunia. Agama bisa menjadi cahaya lampu yang redup,
atau bisa saja lenyap dan pelan-pelan tenggelam. Sejatinya, Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan pekat.
Gus Dur adalah ‘lilin’ dan sekaligus ‘obor’ yang kiprah perjuangannya
tidak akan pernah pudar. Beliau sadar bahwa tugas dan tanggung jawab
sebagai orang Indonesia adalah menyepakati Pancasila yang merupakan
satu-satunya falsafah negara yang mempersatukan masyarakat umat beragama
dalam bingkai NKRI. Gus Dur seperti ‘lilin’ dan ‘obor’ yang menerangi
perjuangan masyarakat Indonesia untuk tetap mempertahankan kebhinekaan.
Dia mengedepankan keteladanan yang santun, mengedepankan persatuan dan
kesatuan agar umat tetap rukun dan harmonis dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari.
Tanggal 30 desember kemarin, kita memperingati Haul Gus Dur yang
ke-5. Beliau adalah perancang keberagaman Indonesia yang semua kiprahnya
adalah untuk membimbing umat ke arah yang lebih baik terutama dalam
kerukunan, persatuan dan kesatuan. Sebab faktor konflik dan
disharmonisasi selama ini diakibatkan karena munculnya ketidaksepahaman
yaitu banyak orang yang memuliakan Tuhan, tetapi tidak menyayangi sesama
manusia.
Gus Dur adalah tokoh yang menjadi pelopor di dalam dialog antaragama/
antariman. Selama ini memang dialog-dialog agama sudah banyak dan
sering dilakukan. Tetapi kalau diamati dengan benar-benar, apakah
hasilnya sudah nampak, terutama dalam kehidupan umat? Pantas dicatat
bahwa yang sering terjadi dalam dialog-dialog tersebut ialah dialog
mengenai ajaran agama, mencari kebenaran dan hal-hal yang bersifat
pembenaran semata, mencari tahu siapa yang lebih benar. Memang harus
diakui bahwa pasti ada perbedaan dalam ajaran/doktrin agama, meskipun
ada juga titik-titik temunya. Gus Dur pernah mengatakan, justru di tengah perbedaan itulah, kita dapat mengetahui dimana letak titik persatuan kita.
Pada hemat saya, Gus Dur memberlakukan “dialog antariman” di tengah
realitas masyarakat Indonesia yang plural ini. Bukan hanya dialog “inter-religions ” saja tetapi “inter-faith” yang lebih mendalam sifatnya. Melalui dialog antariman, umat akan dibawa ke arah yang bukan semata-mata ”having religion ” tetapi lebih dalam lagi yaitu ”being religious ”, yang nanti akan memuncak pada ”being inter religious”.
Inilah situasi ideal yang kita kehendaki dalam kehidupan bersama umat
beragama, yang sekaligus juga umat berbangsa dan bernegara Indonesia.
Tentu ini menjadi harapan Gus Dur untuk masa depan Indonesia yang cinta
damai.
Gus Dur, yang selama hidupnya telah banyak menanamkan budi, beliau
seperti bunga mawar, yang harum, berwarna merah dan indah dilihat. Kalau
toh, mawar itu mati dan lisut, harumnya tidak akan pernah sirna. Beliau
tidak akan pudar, kenangan, berjuta perjuangan, pembelaan terhadap
’wong cilik’ menjadikannya seperti angin yang mengelana. Dia (baca: Gus
Dur) juga seperti api yang kenangannya ’menyala’ dan menghangatkan jiwa
para penerusnya. Dia melakukan tindakan saleh dengan hati tulus, tanpa
pamrih bak ksatria yang melakukan semua itu karena dia mencintai
Indonesia.
Di tepi makam, saya masih berujar demikian, benarkah dia sudah
dimakamkan? Karena sebaiknya dan seharusnya dia masih hidup di bumi
pertiwi ini. Perjuangan kemanusiaan, demokrasi dan keadilan belum
selesai. Hatinya menyala-nyala bagai obor yang hidup, mencoba
menelisik kembali jejak guru bangsa, dan sekaligus guru spiritual. Kata
kunci untuk mengenang dirinya adalah ’tulus’ ’nirpamrih’, ’menolong’ dan
’manusia’. Meskipun raga sudah tiada, tetapi nilai-nilai yang
diwariskannya tetap lestari dan diperjuangkan oleh penerusnya. Ingatan
manusia tidak akan lupa sosok guru bangsa yang toleran ini.
Banyak pesantren di Jawa Timur yang terus menerus hingga hari ini,
mengadakan tahlilan, doa bersama lintas iman untuk mengenang Alm. Gus
Dur. Tidak ada paksaan, tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada yang
membayar. Semua itu di lakukan demi cintanya kepada Gus Dur dan cintanya
kepada Indonesia. Ketaatan itu murni, tidak digerakkan dan
diiming-imingi ’hadiah’ tertentu, tetapi semua itu buah dan budi
perjuangan Gus Dur. Kepergiannya memberi kita pelajaran: ketulusan
dibayar dengan ketulusan. Kebaikan dibalas dengan kebaikan.
Gus Dur memberikan kita sebuah contoh bagaimana kita hidup sebagai
agama di Indonesia ini. Beliau mengajarkan dialog kehidupan yaitu dialog
yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Selain dialog kehidupan,
beliau juga mengajarkan dialog karya, yaitu bekerjasama untuk
masalah-masalah sosial dan tujuan tertentu di masyarakat dan yang
terakhir, dialog autentik, yaitu dimana partner-partner yang dialog itu
duduk bersama, mendialogkan hal-hal yang sudah disepakati sebelumnya
dengan hati yang tulus, ikhlas dan penuh cinta kasih.
Mengapa kita harus berdialog? Karena dasarnya jelas bahwa Allah itu
adalah Allah yang dialogis. Allah yang memanggil ciptaan-Nya, manusia
untuk menjadi mitra-Nya, menjadi hamba-Nya, menjadi pelayan-Nya. Sama
seperti penciptaan Adam yang artinya manusia dalam kebersamaan.
| Find your Gus Dur’s spirit and be an instrument of peace! |
Gus Dur mengajarkan kepada kita bahwa dialog harus lebih mengutamakan manusia (’people to people dialogue’)
daripada wakil suatu agama dengan wakil agama lain. Sama seperti di
dalam ajaran Islam, yang dikenal istilah ”dalihan na tolu” yang di
dalamnya ada kebersamaan, percakapan, makan bersama dan semuanya itu
berintikan komunikasi/ dialog. Dengan dialog, manusia menyadari bahwa
dirinya tidak sendiri, tetapi hidup bersama dengan yang lain. Karena
manusia adalah khalifah Allah (Q.S. 2 : 30) yang menyadari bahwa dirinya
selalu ada pihak lain di samping dirinya, yang kepadanya ia harus
berdialog. Semua umat manusia dan mengaku dirinya beragama mempunyai
panggilan untuk berdialog sesuai dengan hakekat kemanusiaannya dan juga
hakekatnya di tengah masyarakat.
Bagi Gus Dur, hidup bukan sekadar soal aturan/ ”apa aturan mainnya”,
namun bagaimana ”bermain” dengan hati yang terarah pada TUHAN dalam
suasana batin penuh syukur dan karya bening penuh kebajikan moral.
Itulah buah-buah spiritualitas sang guru bangsa. Jadi mendidik orang di
jalan damai bukan sekedar soal ”lakukan ini dan itu sebagai pendidik”
namun ”lakukan ini dan itu dalam kesadaran akan penghayatan TUHAN atas
hidup si pendidik dalam segala lembah dan gunungnya, sehingga membuah
dalam ucapan dan tindakan yang gembira, bersih dan menghadirkan pengaruh
positif bagi orang/anak/murid sedemikian rupa sehingga tercipta sistem
yang kondusif bagi mekarnya potensi perdamaian di dalam diri nara
didik”. Ada Adagium yang mengatakan begini, ”si vis pacem para orthodoxy, orthopraxy et orthospiritus?” : ”Jika menginginkan damai, siapkanlah ajaran yang benar, tindakan yang benar dan spiritualitas yang benar”.
Dimulai dan diteladankan dari dan oleh diri sendiri, dan dibagikan
kepada sesama dalam segala realitas, di rumah, sekolah, di tempat kerja
dan di ladang dunia ini. Memang sulit, tidak mudah tapi bukan mustahil,
bukan khayalan. Yang diperlukan adalah kesungguhan memperjuangan nilai
perdamaian dengan hati penuh syukur, bukan dengan hati muram. Yang
diperlukan adalah memperjuangan perdamaian dengan keteladanan dalam
segala aspek kehidupan dan bukan dengan keahlian retorika. Ingat,
perdamaian bukan soal jualan pepesan kosong. Yang diperlukan bukan
kepandaian mempengaruhi orang lain dengan segala macam janji dan orasi,
melainkan dengan bukti dalam buah kehidupan sendiri dan memeliharanya
dalam sistem edukasi.
Di mana semua itu di mulai? Jawabnya adalah, Find your Gus Dur’s spirit in your heart. Banyak
orang datang ke makamnya, menaburkan bunga, berdoa, tetapi tidak
menemukan spiritnya. Tidak mendapatkan semangat dan daya juangnya. Ia
(baca : Gus Dur) mengingkan para GUSDUR-ian dimanapun berada mewarisi
keteladannya dan dunia ini membutuhkan karya damai.
Temukan itu. Mungkin saja tempat itu tak jauh dari tempat Anda. Malah
mungkin saja, tempat itu adalah di rumah Anda sendiri, di tempat di
mana Anda sendiri kini berada. Di situlah panggilan hidup sebagai
pendamai yang penuh syukur dan menjaga kualitas moral di butuhkan. Find your Gus Dur’s spirit and be an instrument of peace!
Penulis adalah calon pendeta GKI Jombang dan menjadi aktivis GUSDUR-ian Jombang