Hello guys,
Domisili anda di Palembang dan mau perpanjang masa berlaku SIM Anda?
Berikut ini tempat perpanjang SIM anda tanpa repot-repot ke Polda Jakabaring.
1. Di taman sebelah Hotel Arya Duta.
2. Di taman simpang jembatan layang Polda.
Disana nanti Anda akan menemukan sebuah mobil tugas kepolisian, disanalah Anda bisa perpanjang SIM Anda tanpa repot. Cukup bawa fotokopi SIM dan KTP anda masing-masing 2 lembar, dan sebuah pas foto terbaru (optional) ukuran 3x4. Untuk biaya silahkan Anda tanyakan langsung ke bapak petugasnya ya. :))
Sekian info dari saya , semoga bermanfaat.
See ya....
Senin, 29 Agustus 2016
0 komentarKumpulan Cerita Pembuka Pintu Hati Ajahn Brahm
SEKILAS PROMO... AYO KUNJUNGI ONLINE SHOP SAYA DI
Hello Guys,
Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah mendengar dan tau tentang Ajahn Brahm dan mungkin sebagian dari kalian juga tidak tahu siapa itu Ajahn Brahm. No problem, informasi tentang Ajahn Brahm kalian bisa cek sendiri di google yah. Di postingan saya ini, saya hanya berniat ingin berbagi cerita-cerita pembuka hati Ajahn Brahm saja. Semoga bisa menginspirasi saudara-saudara sekalian. Cerita-cerita ini saya kutip dari buku beliau yang berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya". Jika saudara-saudara sekalian merasa tertarik, silahkan dibeli saja bukunya di toko buku di kota saudara, karena di artikel ini saya tidak mengutip seluruh ceritanya. Here we go...
KEPEKAAN
1. Perangkap Tikus
Suatu ketika, ada seekor tikus yang hidup di rumah seorang petani. Ia adalah seekor tikus kecil yang bahagia, sebab ia mendapat cukup banyak makanan. Sungguh bagus punya tikus di rumah, karena itu artinya kita tidak memerlukan penyedot debu. Biar si tikus yang memunguti remah-remah kecil dan mungil..., tapi itu kalau kita bisa melatih si tikus untuk mengambil remah di tempat yang benar. Haha
Masalahnya, petani pemilik rumah tak pernah menyukai tikus itu. Suatu hari, ketika si tikus mengintip melalui retakan di tembok, ia melihat petani itu tengah membuka sebuah bungkusan. Saat ia melihat benda dalam bungkusan itu, ia ketakutan. Petani itu ternyata membeli sebuah perangkap tikus !!
Begitu gegernya tikus itu sampai-sampai ia langsung menemui sahabatnya, Si Ayam, dan berseru, "Pak Tani beli perangkap tikus! Ini mengerikan! Ini bencana!"
Namun Si Ayam malah berkata, "Bukan masalahku. Tak ada hubungannya denganku. Itu urusanmu, Tikus! Pergi sana!"
Tikus itu tidak mendapat simpati dari ayam, jadi ia pergi menemui sahabatnya yang lain, Tuan Babi."Tuan Babi, Tuan Babi! Pak Tani beli perangkap tikus. Ini berita mengerikan, aku tidak tahu apa aku bisa tidur nyenyak malam ini! Aku dalam bahaya!"
Tuan Babi berkata,"Gak ada urusannya denganku. Urusanmu! Perangkap tikus gak bisa menangkap babi. Kamu lagi sial aja, sana pergi!"
Tikus itu begitu kecewa dengan Tuan Babi, maka ia menemui sahabatnya yang lain, Nyonya Sapi.
"Nyonya Sapi, tolonglah aku! Pak Tani sudah beli perangkap tikus! Aku begitu paranoid sekarang! Kamu tahu kan tikus biasanya lari kesana kemari dan tidak tahu lari menginjak apa. Aku bisa menginjak perangkap itu dan aku akan terbunuh...!"
Nyonya Sapi berkata,"Wah, wah... Itu pasti karma dari kehidupan lampaumu... Tapi Sayangnya, tidak ada hubungannya denganku."
Tikus itu tidak mendapat simpati dari satupun sahabatnya. Dengan muram, ia pulang ke liangnya. Malam itu, seekor ular menyusup ke rumah petani itu dan ekornya terkena perangkap tikus itu.
Ketika istri petani datang untuk memeriksa apakah perangkap itu sudah menangkap tikus, ular itu mematuk istri petani itu. Akibatnya, istri petani itu menderita sakit berat. Karena beratnya sakit sang istri, petani itu berpikir,"Apa ya yang bagus untuk orang sakit? Aah... Sup ayam!"
Maka petani itu mengambil ayam, memotong kepalanya, membuluinya, dan merebusnya menjadi sup ayam untuk istrinya. Si ayam kehilangan nyawanya.
Istri petani tak kunjung sembuh. Sanak saudara berdatangan untuk memastikan apakah istri petani itu baik-baik saja. Karena banyak tamu berkunjung, petani tidak tahu harus menyediakan makanan dari mana buat mereka. Jadi ia menangkap si babi, mejagalnya, lalu menyajikan sosis dan ham untuk tamu-tamunya. Si babi pun kehilangan nyawanya.
Sekalipun telah melakukan segala upaya, istri petani malang itu meninggal jua. Karena ia meninggal - Anda tahu betapa mahalnya upacara pemakaman, maka petani harus memotong sapi dan menjual dagingnya untuk membayar biaya upacara. Jadi pada akhirnya, si ayam mati, si babi dijagal, dan si sapi dijagal..., semua ini karena perangkap tikus.
Jadi, itu bukan hanya masalah si tikus, tapi masalah semuanya.
Kita sering berpikir, "Ini tidak akan mempengaruhiku, tak ada urusannya denganku. Ini masalah orang lain." Tapi kisah ini memberitahu kita:"Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga."
Itulah sebabnya mengapa kita harus saling menolong satu sama lain, walau kita tidak tahu bagaimana hal itu berakibat pada kita. Jika ada masalah dalam hidup Anda, mohon jangan pernah berpikir bahwa ini masalah Anda. atau masalah dia. Alih-alih, pikirkan itu sebagai masalah kita, sebab kita semua berada di dalamnya bersama-sama, dan bagian yang indah dalam proses ini adalah berbagi dengan orang lain.
Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama. Jika upaya kita berhasil dan mencapai akhir yang baik, luar biasa. Tapi meskipun tidak berhasil, hal yang paling penting adalah : kita bekerja bersama-sama. Pokok masalahnya bukanlah dalam menyelesaikan semua masalah kita, namun ada pada kenyataan bahwa kita tidak bekerja sama. Disitulah masalahnya.
Jika kita belajar untuk saling bekerja sama, kita akan memiliki kehidupan spiritual yang menakjubkan ini, dan kita tidak akan merasa begitu kesepian. Lalu, kita pun makin dekat dengan realitas bahwa kita semua ada dalam perahu ini bersama-sama.
2. Nasihat Pernikahan
Ada perumpamaan mengenai pernikahan yang biasanya saya ceritakan kepada pasangan mempelai. Dalam suatu pernikahan di Inggris, sepasang mempelai baru selesai melangsungkan upacara pernikahan mereka dan meminta pemberkahan dari saya.
Maka saya menatap lekat-lekat mata mempelai perempuan, dan berkata, "Kini Anda sudah menikah. Mulai sekarang, Anda seharusnya tidak lagi memikirkan diri Anda sendiri."
Mempelai perempuan langsung mengangguk.
Kemudian saya melihat ke mempelai pria, "Mulai sekarang, Anda adalah pria yang sudah menikah. Anda sudah menjadi seorang suami. Anda pun tidak seharusnya memikirkan diri Anda sendiri."
Mempelai pria tersenyum. Lalu sejenak kemudian, ia baru mengangguk. Kaum pria memang biasanya begitu.
Sambil masih menatap mempelai pria, saya berkata, "Mulai hari ini pula, Anda tidak seharusnya memikirkan istri Anda."
Saya suka sekali mengatakan hal ini, sebab di titik ini mereka berdua kelihatan benar-benar bingung! Pengantin perempuan mulai berpikir, "Apa yang biksu gila ini omongkan?"
Lalu saya ganti menatap pengantin perempuan dan berkata. "Mulai saat ini, Anda juga seharusnya tidak memikirkan suami Anda."
Salah satu hal cara yang menakjubkan dalam menasihati orang adalah menggunakan kebingungan, sebab ketika kita dalam kebingungan, semua gagasan lama, cara berpikir untuk menyelesaikan masalah benar-benar tersingkirkan, sehingga kita bisa melihat rute pemahaman yang baru. Jadi kebingungan merupakan salah satu cara melihat kebenaran. Persis seperti ucapan favorit saya : jangan biarkan pengetahuan Anda menghalangi di jalan menuju kebenaran.
Kedua pengantin ini berpikir bahwa menjadi hubungan itu berarti memikirkan mengenai pasangannya.
Lalu saya mengatakan, "Mulai sekarang, Anda berdua seharusnya berpikir mengenai kita, Anda berdua adalah pasangan. Jika Anda hanya memikirkan diri sendiri maka Anda sudah melenceng dari hakikat suatu hubungan. Jika Anda hanya memikirkan pasangan Anda, maka Anda pun luput dari maknanya, karena jalinan hubungan bukanlah mengenai saya, bukan mengenai mereka, namun selalu mengenai kita."
Jadi ketika menjalin hubungan, itu bukanlah masalah dia, atau masalah saya, tetapi... masalah kita. Tak peduli siapa yang memulainya, itu masalah kita.
Sayang saya belum bisa melakukan hal ini di Australia. Padahal itu pasti akan membuat upacara perkabungan menjadi tontonan yang menarik dan menghibur.
DI TOKOPEDIA : RUMAH POPOK LYLY - PLG ATAU
DI SHOPEE : RUMAH POPOK LYLY - PLG ATAU
DI BLOGSPOT : RUMAH POPOK LYLY - PLG
PENUHI KEBUTUHAN POPOK ANAK KESAYANGAN ANDA DENGAN HARGA LEBIH HEMAT !!!
Hello Guys,
Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah mendengar dan tau tentang Ajahn Brahm dan mungkin sebagian dari kalian juga tidak tahu siapa itu Ajahn Brahm. No problem, informasi tentang Ajahn Brahm kalian bisa cek sendiri di google yah. Di postingan saya ini, saya hanya berniat ingin berbagi cerita-cerita pembuka hati Ajahn Brahm saja. Semoga bisa menginspirasi saudara-saudara sekalian. Cerita-cerita ini saya kutip dari buku beliau yang berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya". Jika saudara-saudara sekalian merasa tertarik, silahkan dibeli saja bukunya di toko buku di kota saudara, karena di artikel ini saya tidak mengutip seluruh ceritanya. Here we go...
KEPEKAAN
1. Perangkap Tikus
Suatu ketika, ada seekor tikus yang hidup di rumah seorang petani. Ia adalah seekor tikus kecil yang bahagia, sebab ia mendapat cukup banyak makanan. Sungguh bagus punya tikus di rumah, karena itu artinya kita tidak memerlukan penyedot debu. Biar si tikus yang memunguti remah-remah kecil dan mungil..., tapi itu kalau kita bisa melatih si tikus untuk mengambil remah di tempat yang benar. Haha
Masalahnya, petani pemilik rumah tak pernah menyukai tikus itu. Suatu hari, ketika si tikus mengintip melalui retakan di tembok, ia melihat petani itu tengah membuka sebuah bungkusan. Saat ia melihat benda dalam bungkusan itu, ia ketakutan. Petani itu ternyata membeli sebuah perangkap tikus !!
Begitu gegernya tikus itu sampai-sampai ia langsung menemui sahabatnya, Si Ayam, dan berseru, "Pak Tani beli perangkap tikus! Ini mengerikan! Ini bencana!"
Namun Si Ayam malah berkata, "Bukan masalahku. Tak ada hubungannya denganku. Itu urusanmu, Tikus! Pergi sana!"
Tikus itu tidak mendapat simpati dari ayam, jadi ia pergi menemui sahabatnya yang lain, Tuan Babi."Tuan Babi, Tuan Babi! Pak Tani beli perangkap tikus. Ini berita mengerikan, aku tidak tahu apa aku bisa tidur nyenyak malam ini! Aku dalam bahaya!"
Tuan Babi berkata,"Gak ada urusannya denganku. Urusanmu! Perangkap tikus gak bisa menangkap babi. Kamu lagi sial aja, sana pergi!"
Tikus itu begitu kecewa dengan Tuan Babi, maka ia menemui sahabatnya yang lain, Nyonya Sapi.
"Nyonya Sapi, tolonglah aku! Pak Tani sudah beli perangkap tikus! Aku begitu paranoid sekarang! Kamu tahu kan tikus biasanya lari kesana kemari dan tidak tahu lari menginjak apa. Aku bisa menginjak perangkap itu dan aku akan terbunuh...!"
Nyonya Sapi berkata,"Wah, wah... Itu pasti karma dari kehidupan lampaumu... Tapi Sayangnya, tidak ada hubungannya denganku."
Tikus itu tidak mendapat simpati dari satupun sahabatnya. Dengan muram, ia pulang ke liangnya. Malam itu, seekor ular menyusup ke rumah petani itu dan ekornya terkena perangkap tikus itu.
Ketika istri petani datang untuk memeriksa apakah perangkap itu sudah menangkap tikus, ular itu mematuk istri petani itu. Akibatnya, istri petani itu menderita sakit berat. Karena beratnya sakit sang istri, petani itu berpikir,"Apa ya yang bagus untuk orang sakit? Aah... Sup ayam!"
Maka petani itu mengambil ayam, memotong kepalanya, membuluinya, dan merebusnya menjadi sup ayam untuk istrinya. Si ayam kehilangan nyawanya.
Istri petani tak kunjung sembuh. Sanak saudara berdatangan untuk memastikan apakah istri petani itu baik-baik saja. Karena banyak tamu berkunjung, petani tidak tahu harus menyediakan makanan dari mana buat mereka. Jadi ia menangkap si babi, mejagalnya, lalu menyajikan sosis dan ham untuk tamu-tamunya. Si babi pun kehilangan nyawanya.
Sekalipun telah melakukan segala upaya, istri petani malang itu meninggal jua. Karena ia meninggal - Anda tahu betapa mahalnya upacara pemakaman, maka petani harus memotong sapi dan menjual dagingnya untuk membayar biaya upacara. Jadi pada akhirnya, si ayam mati, si babi dijagal, dan si sapi dijagal..., semua ini karena perangkap tikus.
Jadi, itu bukan hanya masalah si tikus, tapi masalah semuanya.
Kita sering berpikir, "Ini tidak akan mempengaruhiku, tak ada urusannya denganku. Ini masalah orang lain." Tapi kisah ini memberitahu kita:"Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga."
Itulah sebabnya mengapa kita harus saling menolong satu sama lain, walau kita tidak tahu bagaimana hal itu berakibat pada kita. Jika ada masalah dalam hidup Anda, mohon jangan pernah berpikir bahwa ini masalah Anda. atau masalah dia. Alih-alih, pikirkan itu sebagai masalah kita, sebab kita semua berada di dalamnya bersama-sama, dan bagian yang indah dalam proses ini adalah berbagi dengan orang lain.
Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama. Jika upaya kita berhasil dan mencapai akhir yang baik, luar biasa. Tapi meskipun tidak berhasil, hal yang paling penting adalah : kita bekerja bersama-sama. Pokok masalahnya bukanlah dalam menyelesaikan semua masalah kita, namun ada pada kenyataan bahwa kita tidak bekerja sama. Disitulah masalahnya.
Jika kita belajar untuk saling bekerja sama, kita akan memiliki kehidupan spiritual yang menakjubkan ini, dan kita tidak akan merasa begitu kesepian. Lalu, kita pun makin dekat dengan realitas bahwa kita semua ada dalam perahu ini bersama-sama.
2. Nasihat Pernikahan
Ada perumpamaan mengenai pernikahan yang biasanya saya ceritakan kepada pasangan mempelai. Dalam suatu pernikahan di Inggris, sepasang mempelai baru selesai melangsungkan upacara pernikahan mereka dan meminta pemberkahan dari saya.
Maka saya menatap lekat-lekat mata mempelai perempuan, dan berkata, "Kini Anda sudah menikah. Mulai sekarang, Anda seharusnya tidak lagi memikirkan diri Anda sendiri."
Mempelai perempuan langsung mengangguk.
Kemudian saya melihat ke mempelai pria, "Mulai sekarang, Anda adalah pria yang sudah menikah. Anda sudah menjadi seorang suami. Anda pun tidak seharusnya memikirkan diri Anda sendiri."
Mempelai pria tersenyum. Lalu sejenak kemudian, ia baru mengangguk. Kaum pria memang biasanya begitu.
Sambil masih menatap mempelai pria, saya berkata, "Mulai hari ini pula, Anda tidak seharusnya memikirkan istri Anda."
Saya suka sekali mengatakan hal ini, sebab di titik ini mereka berdua kelihatan benar-benar bingung! Pengantin perempuan mulai berpikir, "Apa yang biksu gila ini omongkan?"
Lalu saya ganti menatap pengantin perempuan dan berkata. "Mulai saat ini, Anda juga seharusnya tidak memikirkan suami Anda."
Salah satu hal cara yang menakjubkan dalam menasihati orang adalah menggunakan kebingungan, sebab ketika kita dalam kebingungan, semua gagasan lama, cara berpikir untuk menyelesaikan masalah benar-benar tersingkirkan, sehingga kita bisa melihat rute pemahaman yang baru. Jadi kebingungan merupakan salah satu cara melihat kebenaran. Persis seperti ucapan favorit saya : jangan biarkan pengetahuan Anda menghalangi di jalan menuju kebenaran.
Kedua pengantin ini berpikir bahwa menjadi hubungan itu berarti memikirkan mengenai pasangannya.
Lalu saya mengatakan, "Mulai sekarang, Anda berdua seharusnya berpikir mengenai kita, Anda berdua adalah pasangan. Jika Anda hanya memikirkan diri sendiri maka Anda sudah melenceng dari hakikat suatu hubungan. Jika Anda hanya memikirkan pasangan Anda, maka Anda pun luput dari maknanya, karena jalinan hubungan bukanlah mengenai saya, bukan mengenai mereka, namun selalu mengenai kita."
Jadi ketika menjalin hubungan, itu bukanlah masalah dia, atau masalah saya, tetapi... masalah kita. Tak peduli siapa yang memulainya, itu masalah kita.
3. Aku
ini Benar atau Salah ya?
Banyak orang mengalami keraguan setelah
mengambil sebuah keputusan. Apa yang membuat saya terheran-heran adalah saat
sebagian orang mengambil keputusan dengan mantap dan merasa tenteram, namun
setelah itu mereka mulai berpikir, “Aku ini benar atau salah ya?”
Ini mengingatkan saya akan kisah yang
sangat menarik pada masa awal kehidupan saya sebagai biksu. Ada seorang biksu
–ia kini biksu sangat senior di wihara kami – suatu hari jatuh sakit. Saat itu
saya adalah biksu yang bertanggung jawab terhadap persediaan barang di wihara.
Biksu ini tahu bahwa saya cukup tegas dan ketat. Ia sedang memerlukan obat itu
dan ia mengambilnya tanpa memberitahu saya. Pada kemudian hari ia berpikir
bahwa ia telah mencuri.
Setelah tiga atau empat hari
memikir-mikirkan it uterus, ia dipenuhi dengan begitu banyak penyesalan, sebab
mencuri adalah pelanggaran yang bisa membuatnya harus berhenti menjadi biksu.
Ia sudah siap mengenakan celana panjang lagi dan kembali ke rumahnya sebab ia
pikir ia sudah melanggar peraturan besar.
Ketika ia bertanya kepada Ajahn Chah, Ajahn
Chah berkata,”Jika itu salah, kamu pasti sudah tahu saat itu. Kamu tidak
apa-apa.” Dan seperti hamper semua yang dikatakan Ajahn Chah, ucapan itu
bagaikan ledakan besar yang menggelegar dalam batin!
Kata-kata itu langsung menembus ke inti
masalah, sebab pada saat itu terjadi, biksu ini merasa ini adalah hal yang
benar untuk dilakukan. Namun setelah itu ia mulai berpikir, bertanya kepada
orang lain, dan dari sana mulai jadi ruwet. Dari sanalah, keragu-raguan muncul.
Ketika Anda melihat kembali apa yang Anda
lakukan, Anda tak akan pernah bisa melihat sejernih ketika itu terjadi. Itulah
sebabnya sangat mudah memasukkan tambah-tambahan ini,”Mungkin aku ini lengah.
Mungkin aku memiliki niat buruk.” Namun Ajahn Chah mengatakan,”Tidak kok.
Jangan cemaskan masalah seperti itu pada kemudian hari. Pada saat terjadi,
itulah waktu yang paling penting! Saat itulah Anda tahu mana yang baik dan yang
buruk.”
Terkadang ketika Anda melihat kembali apa yang
telah Anda kerjakan, Anda merenung, “Apakah aku melakukan hal yang benar atau
salah?” Buang-buang waktu saja melihat balik dengan cari seperti itu. Pada saat
itu, Anda pasti sudah mengetahuinya. Bagaimana perasaan Anda setelah
melakukannya? Atau tepat satu detik setelahnya, ketika Anda mengatakan kepada
pasangan Anda. Bagaimana perasaan Anda pada saat itu? Penilaian saat itu akan
menggambarkan dengan lebih akurat kepiawaian atau kelalaian suatu perbuatan.
Jika anda melihat ke belakang, itu hanya
akan membuatnya menjadi tambah rumit – ketika Anda menambah-nambahi sesuatu
pada kejadian yang telah lewat itu, sehingga Anda tidak akan bisa melihat
kebenaran itu lagi.
4. Peka
Akan Kehidupan
Salah satu siswi saya di Bangkok sering
mengikuti saya selama bertahun-tahun saat saya mengajar keliling Thailand. Ia
adalah wartawati Koran Bangkok Post. Alasan ia mengikuti saya ke mana-mana
adalah untuk mendapatkan wawancara. Dalam suatu wawancara, ia bertanya mengenai
pandangan Buddhist mengenai euthanasia atau praktik mencabut nyawa pasien yang
sudah tak tertolong tanpa rasa sakit.
Saya berkata kepadanya, “Nah, mari kita
ambil contoh konkret. Misalkan Ibu Anda telah koma selama berbulan-bulan di
rumah sakit dan tak ada kemungkinan nyata untuk pulih, lalu seseorang bernyata
kepada Anda, “Apa sebaiknya kita matikan saja alat penyokong hidupnya?” Nah,
sebagai seorang Buddhist, apa yang seharusnya Anda lakukan jika itu menimpa Ibu
Anda?”
Ketika saya mengatakan hal ini, saya
melihat rahang wartawati itu seperti mau copot, dan ia berseru,”Wow, Anda hebat
sekali!!! Sebab ibunya memang berada dalam kondisi koma di rumah sakit,
tersambung dengan alat penyokong kehidupan, dan sudah berada dalam keadaan
demikian cukup lama. Jadi saya mengawali jawaban saya dengan begitu tepat.
Namun dari nasihat saya – yang paling
penting untuk dikethui semua orang adalah: duduklah di samping ibu Anda atau
siapa pun yang dekat dengan Anda dan berada dalam keadaan koma, peganglah
tangannya, dan meskipun dalam keadaan itu, tanyakanlah apakah ia masih ada
disana, apakah ia ingin pergi atau tidak. Jika Anda cukup peka, Anda akan
mengetahui banyak perbedaan antara orang yang hanya berupa jenazah yang
bertahan hidup oleh mesin, dengan makhluk yang masih berada dalam tubuh itu,
berjuang untuk bertahan hidup dan membaik. Ada banyak perbedaan di sana, dan
jika itu adalah seseorang yang Anda cintai, Anda akan bisa merasakannya. Anda
bisa merasa bahwa masih ada seseorang di sana. Dan jika masih ada seseoran di
sana, pastikan mesin penyokong hidup itu tetap menyala.
Salah seorang siswi saya juga pernah
menceritakan kisahnya saat berada dalam koma. Saya mendengar kisah ini sebab ia
sembuh total dan menceritakan kisah ini dalam forum umum mengenai bagaimana
rasanya berada dalam keadaan koma selama berhari-hari. Ia bercerita bahwa ia
berada di tempat yang sangat gelap. Ia tidak tahu berapa lama ia ada di sana,
sebab disana rasanya seperti tiada waktu, meski komanya terjadi selama beberapa
minggu.
Kemudian apa yang membawanya kembali ke
kesadaran adalah suara lonceng wihara. Ia tidak tahu mengapa yang muncul adalah
suara itu, akan tetapi suara itu membawanya dari kegelapan kembali ke tubuhnya.
Bagitu kembali ke dalam tubuhnya, ia menyadari ia tidak bisa bicara atau
bergerak, namun ia bisa melihat, mendengar, dan merasakan segala yang terjadi
disekitarnya. Namun, ia tidak bisa merespon sekitarnya.
Beberapa saat kemudian, ia melihat putranya
datang menjenguk. Hal ini tentu saja menggembirakan hatinya, tetapi ia tidak
bisa mengungkapkan bahwa ia merasa senang. Isa tidak bisa menanggapi kata-kata,
ciuman-ciuman, atau saat mereka memegang tangannya.
Lalu ia merasa ketakutan saat dokter datang
dan mengatakan bahwa ibu mereka tidak punya harapan bisa pulih dari koma.
Dokter itu meminta ijin kepada anak-anaknya untuk mematikan alat penyambung
hidup. Ia mendengar hal itu dan berpikir mati-matian,”Tidak! Aku masih ada
disini! Jangan matikan!” Tapi ia tak bisa menggerakkan mulutnya, atau bagian
tubuh mana pun.
Karena ia adalah keluarga keturunan
Tionghoa, anak-anaknya yang lain berkata kepada putra sulungnya,”Nah, ini
keputusanmu.” Putra sulungnya berkata,”Jangan, jangan biarkan aku memutuskan
sendirian! Aku butuh bantuan untuk mengambil keputusan.” Tapi tentu saja tidak
ada yang mau mengambil keputusan untuk mematikan alat itu atau tidak.
Jadi mereka melemparkan tanggung jawab itu
ke si sulung, dan ia harus memilih apakah ibunya akan mati tepat disana atau
menyambung hidup. Tentu saja, ibunya tidak bisa menggerakkan bibir, mata, atau
tubuhnya. Namun ia bisa menggerakkan pikirannya. Ia berharap dan bertekad,
memusatkan batinya,”Jangan putraku! Aku masih disini!”
Kemudian putranya berkata,”Jangn dimatikan.
Beri ibu kesempatan sehari lagi.”
Dalam waktu 24 jam, ibu itu mampu
menggerakkan tangannya, cukup untuk menunjukkan kepada dokter bahwa penyembuhan
terjadi. Tentu saja, karena ia sendiri yang menceritakan kisah itu, ia sembuh
total.
JANGAN SERIUS-SERIUS AMAT
1. Rinzai
Santai
Dalam meditasi, Anda harus memiliki
kewelasan terhadap diri sendiri. Lembutlah pada diri sendiri.
Ada kisah Zen kuno mengenai biksu bernama
Rinzai. Ia sedang berada dalam balairung meditasi di sebuah biara yang sangat
disiplin, dalam tradisi Zen dimana para guru suka memukul murid yang mengantuk
atau tertidur. Nah, gurunya yang sangar, suatu hari datang ke balairung
meditasi pagi-apgi sekali.
Rinzai, biksu hebat ini, terkantuk-kantuk
hingga terlelap. Badannya menjuntai ke depan, ia sudah tertidur, ia tidak
berusaha menegakkan badannya. Ia pasti akan dipukul oleh guru besar ini.
Biksu yang duduk disampingnya, karena
kasihan, menyikut Rinzai, “Hei Guru datang! Cepat bangun atau kamu akan kena
pukul!”
Rinzai membuka satu matanya, melihat ke
guru besarnya yang datang.”Oh, Cuma guru…,” lalu ia melanjutkan tidurnya hingga
mengorok.
Guru itu meledak dalam kemurkaan. Ia
berteriak dan berkata,”Kalian biksu tolol! Semuanya dungu! Hanya ada satu biksu
yang bagus di retret ini. Dia adalah Rinzai. Hanya dia yang tahu bagaimana
melepas dan tahu soal kewelasan, bukan seperti kalian yang sok menegakkan
badan, wahai kalian para biksu egois dan tolol!”
Saya suka kisah ini sebab ini menunjukkan
betapa mendalamnya ego itu terpatri dalam batin kita. Hanya Rinzai yang melepas
ego, biksu lainnya begitu tegang dan takut.
Kisah lainnya berasal dari Buddha sendiri.
Suatu hari, Buddha sedang tidur pada siang hari. Kemudian makhluk bernama Mara
ini datang dan berseru kepada Buddha,”Nah, saya sudah menangkap basah kamu!
Kamu bukan biksu sejati. Kamu malas. Semua orang harus bekerja keras untuk
member Kmu makan! Mereka tidak tidur pada siang bolong begini, wahai biksu
malas! Mengapa Kamu melakukan hal ini?”
Buddha menjawab,”Aku berbaring demi
kebahagiaan dan kesejahteraan semua makhluk.”
Saya pikir itu adalah jawaban yang luar
biasa hebat. Jadi kapan pun saya tidur siang dan ada yang berkata,”Apa yang
sedang Anda lakukan, Ajahn Brahm? Anda seharusnya mengerjakan sesuatu. Anda
punya banyak pekerjaan untuk diselesaikan, banyak surat harus ditulis, e-mail
yang harus dibalas, mengajar orang, melayani konsultasi, menulis buku.
Pokoknya,lakukan sesuatu!” saya tinggal menjawab,”Saya tidur siang demi
kebahagiaan dan kesejahteraan semua makhluk.” Hahaha…
Sebab, bukanlah sebenarnya Anda juga butuh
waktu untuk rilex? Ingat bahwa orang lain harus menanggung beban berurusan
dengan Anda pula… jadi ketika Anda punya waktu untuk istirahat, lakukanlah
relaksasi, tidur sejenak, bukankah itu akan menguntungkan orang lain pula?
Sebab ketika Anda benar-benar lelah, Anda tegang, Anda secara fisik lelah dan
murung. Itulah sebabnya orang-orang jadi kesal dan marah.
Salah satu penyebab utama mengapa
orang-orang marah adalah karena mereka lelah. Sungguh-sungguh lelah. Mereka
tidak memperbolehkan diri mereka istirahat atau santai sejenak. Dan jika Anda
bisa menciduk semua orang yang marah di dunia ini dan menaruh mereka di sebuah
resor wisata bintang lima, lalu membuat mereka istirahat, ketika mereka keluar,
saya yakin mereka akan menjadi orang yang jauh lebih baik. Mereka tidak akan
begitu marah lagi.
Jadi, jika Anda memiliki bos yang galak
seperti dari neraka, kumpulkanlah sumbangan di kantor, lalu kirimkan bos galak
itu ke pantai wisata selama beberapa hari. Ketika ia kembali, “Oh, kalian semua
sungguh orang-orang kantor yang baik dan mengagumkan. Kalian mau naik pangkat?
Kalian mau naik gaji?”
Robot Biksu
Kadang saya merasa bahwa saya ini mesin ceramah. Anda tinggal putar kunci sekrup di punggung
saya dan saya akan memberikan ceramah seperti boneka yang bisa bicara. Bahkan,
saya sempat berpikir untuk mempraktikan hal ini jika saya sedang pergi dari
wihara.
Saya sudah melihat bahwa robot jaman sekarang sudah tampak
begitu hidup. Anda tinggal menaruhnya di depan Anda, masukkan CD ke dalamnya,
dan robot itu akan hidup dan mulai berceramah. Orang-orang disana tinggal
membawa salah satu dari robot ini ke wihara menggantikan saya. Ha-ha-ha
Sesungguhnya, hal ini sudah dilakukan bertahun-tahun yang
lalu di Jepang. Saya membaca sebuah artikel bahwa di Jepang, budaya disana
sedemikian rupa sehingga mereka menyukai pernikahan ala Kristiani, tetapi
mereka selalu mengadakan upacara perkabungan ala Buddhis. Itulah budaya disana.
Nah, karena upacara perkabungan ala Buddhis begitu popular,
dan sulit sekali mendapatkan biksu atau biksuni yang bagus untuk hadir di
upacara itu, seorang petugas perkabungan yang memiliki jiwa wirausaha
menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan robot biksu.
Robot biksu ini mirip sekali dengan biksu biasa. Ia
mengenakan jubah, berkepala gundul, dan dari jauh Anda mungkin tidak akan
mengenali bedanya. Keunggulannya adalah, ketika dia mendaraskan rapalan
perkabungan, itu akan senantiasa sempurna, sebab itu berasal dari CD. Lalu
bagian terbaliknya adalah, karena dia robot, pada akhir upacara perkabungan,
biksu robot ini perlahan-lahan melayang ke udara, dengan anggun, di tengah awan
halus dari biang es, kemudian lenyap di balik ppintu rahasia di langit-langit.
Keren habis!!
Sayang saya belum bisa melakukan hal ini di Australia. Padahal itu pasti akan membuat upacara perkabungan menjadi tontonan yang menarik dan menghibur.
Langganan:
Komentar (Atom)
