Kamis, 16 September 2010

Kumpulan Asal Usul Palembang - My Lovely City !!! ALL ABOUT PALEMBANG !!!

Sebagai anak Palembang, saya cukup bangga terhadap kota saya ini. Oleh karena itu, berikut ini saya lampirkan beberapa asal usul Palembang, dari asal usul tempat sampai asal usul dan arti nama Palembang itu sendiri. Semoga bermanfaat !!! :)

NB : Sumber dari website infokito. 

Benteng Kuto Besak (BKB)

Ensiklopedia
Benteng Kuto Besak
triyono-infokito
Kuta Besak adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian KUTO di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng, kubu (lihat ‘Kamus Jawa Kuno – Indonesia’, L Mardiwarsito, Nusa Indah Flores, 1986). Bahasa Melayu (Palembang) tampaknya lebih menekankan pada arti puri, benteng, kubu bahkan arti kuto lebih diartikan pada pengertian pagar tinggi yang berbentuk dinding. Sedangkan pengertian kota lebih diterjemahkan kepada negeri.

Benteng ini didirikan pada tahun 1780 oleh Sultan Muhammad Bahauddin (ayah Sultan Mahmud Badaruddin II). Gagasan benteng ini datangnya dari Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) atau dikenal dengan Jayo Wikramo, yang mendirikan Keraton Kuta Lama tahun 1737. Proses pembangunan benteng ini didukung sepenuhnya oleh seluruh rakyat di Sumatera Selatan. Mereka pun menyumbang bahan-bahan bangunan maupun tenaga pelaksananya.
Siapa arsiteknya, tidak diketahui dengan pasti. Ada pendapat yang mengatakan bahwa arsiteknya adalah orang Eropa. Untuk pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan kepada seorang Cina, yang memang ahli di bidangnya.
Sebagai bahan semen untuk perekat bata ini dipergunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan. Tempat penimbunan bahan kapur tersebut terletak di daerah belakang Tanah Kraton yang sekarang disebut Kampung Kapuran, dan anak sungai yang digunakan sebagai sarana angkutan ialah Sungai Kapuran.
Pada tahun 1797, pembangunan benteng ini selesai, dan mulai ditempati secara resmi oleh Sultan Muhammad Bahauddin pada hari Senin, 23 Sya’ban 1211 Hijriah di pagi hari atau bersamaan dengan 21 Februari 1797 Masehi. Sedangkan putranya yang tertua, yang menjadi Pangeran Ratu (putra mahkota) menempati Keraton Kuta Lama.
Pada Perang Palembang 1819 yang pertama, benteng ini dicoba oleh peluru-peluru meriam korvet Belanda, tetapi tak satu pun peluru yang dapat menembus, baik dinding maupun pintunya. Akibat kehabisan peluru dan mesiu, maka armada Belanda tersebut melarikan diri ke Batavia. Dari sinilah lahir ungkapan, yang menyatakan pekerjaan yang sia-sia, karena tak mendatangkan hasil: Pelabur habis, Palembang tak alah, artinya perbuatan atau usaha yang tak rnemberikan hasil, hanya mendatangkan rugi dan lelah sernata. Peristiwa ini ditulis dengan penuh pesona dalam Syair Perang Menteng atau disebut pula Syair Perang Palembang.
Selain keindahan dan kekokohannya, Kuto Besak memang terletak di tempat strategis, yaitu di atas lahan bagaikan terapung di atas air. Dia terletak di atas “pulau”, yaitu kawasan yang dikelilingi oleh Sungai Musi (di bagian muka atau selatan), di bagian barat dibatasi oleh Sungai Sekanak, di bagian timur berbatas Sungai Tengkuruk dan di belakangnya atau bagian utara dibatasi oleh Sungai Kapuran. Kawasan ini disebut Tanah Kraton.
kraton-palembang-jjeakes-500px.jpg
Gambar Sketsa Keraton Palembang oleh J. Jeakes
Bentuk dan keadaan tanah di kota Palembang seolah-olah berpulau-pulau, dan oleh orang-orang Belanda memberinya gelar sebagai de Stad der Twintig Eilanden (Kota Dua Puluh Pulau). Selanjutnya menurut G. Bruining, pulau yang paling berharga (dier eilanden) adalah tempat Kuto Besak, Kuta Lama dan Masjid Agung berdiri.
Terbentuknya pulau-pulau di kota Palembang ialah karena banyaknya anak sungai yang melintas dan memotong kota ini. Sewajarnya pula kalau Palembang disebut Kota Seratus Sungai. Sedangkan di zaman awal kolonial, Palembang dijuluki oleh mereka sebagai het Indische Venetie. Julukan lainnya adalah de Stad des Vredes, yaitu tempat yang tenteram (maksudnya Dar’s Salam). Dan memang nama ini adalah nama resmi dari Kesultanan Palembang Darussalam.
bkb.jpg
Peta Benteng Kota Besak (tanda plus) dilihat dengan wikimapia
[Klik untuk memperbesar]
Struktur dan Teknis
Menurut I. J. Sevenhoven, regeering commisaris Belanda pertama di Palembang, Kuto Besak berukuran lebar 77 roede dan panjang 49 roede (Amsterdamsch roede = kurang lebih 3,75 m, atau panjangnya ialah 288,75 meter dan lebarnya 183,75 meter), dengan keliling tembok yang kuat dan tingginya 30 kaki serta lebarnya 6 atau 7 kaki. Tembok ini diperkuat dengan 4 bastion (baluarti). Di dalam masih ada tembok yang serupa dan hampir sama tingginya, dengan pintu-pintu gerbang yang kuat, sehingga ini dapat juga dipergunakan untuk pertahanan jika tembok pertama dapat didobrak (lihat LJ. Sevenhoven, Lukisan, halaman 14).
Pengukuran terbaru para konsutan sendiri mendapatkan ukuran yang sedikit berbeda, yaitu panjang 290 meter dan lebar 180 meter.
Pendapat de Sturler megenai kondisi benteng Kuto Besak:
“… lebar 77 roede dan panjangnya 44 roede, dilengkapi dengan 3 baluarti separo dan sebuah baluarti penuh, yang melengkapi keempat sisi keliling tembok. Tembok tersebut tebalnya 5 kaki dan tinggi dari tanah 22 dan 24 kaki.
Di bagian dalam di tengah kraton disebut Dalem, khusus untuk tempat kediaman raja, lebih tinggi beberapa kaki dari bangunan biasa. Seluruhnya dikelilingi oleh dinding yang tinggi sehingga membawa satu perlindungan bagi raja. Tak seorang pun boleh mendekati tempat tinggal raja ini kecuali para keluarganya atau orang yang diperintahkannya. Bangunan batu yang lain dalam kraton adalah tempat untuk menyimpan amunisi dan peluru”. (lihat W. L de Sturler – Proeve – halaman 186)
denahkeraton
Gambar Denah Keraton Palembang tahun 1811 [klik gambar untuk memperbesar]
Pada saat peperangan melawan penjajah Belanda tahun 1819, terdapat sebanyak 129 pucuk meriam berada di atas tembok Kuto Besak. Sedangkan saat pada peperangan tahun 1821, hanya ada 75 pucuk meriam di atas dinding Kuto Besak dan 30 pucuk di sepanjang tembok sungai, yang siaga mengancam penyerang.*** [triyono-infokito]
benteng.jpg
Gambar Gerbang Depan Utama Benteng Kuto Besak
Lawang Buratan (gerbang sisi barat) Benteng Kuto Besak yang masih tersisa
bentengkutobesak.jpg
Benteng Kuto Besak Menyambut Visit Musi 2008
***Referensi

  • Humas Pemerintah Kotamadya Palembang; Palembang Zaman Bari
  • Johan Hanafiah; Kuto Besak: Upaya kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan 
  •  

Ensiklopedia
Sungai Musi
Sungai Musi adalah sebuah sungai yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia dengan panjang sungai sekitar 750 km dan merupakan sungai yang terpanjang di Pulau Sumatera. Sejak masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, sungai Musi ini terkenal sebagai sarana utama transportasi kerajaan dan masyarakat. Ini tetap berlanjut pada masa pemerintahan kesultanan Palembang Darussalam.
Hingga kini pun sungai Musi masih menjadi alternatif jalur transportasi ke daerah tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Beberapa industri yang ada di sepanjang aliran sungai Musi juga memanfaatkan keberadaan sungai Musi ini.
Sumber mata air utama sungai Musi berasal dari daerah Kepahiang, Bengkulu, dan bermuara di 9 (sembilan) anak sungai besar, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan. Batanghari Sembilan sendiri merupakan ungkapan untuk sembilan sungai besar ini.
Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan, yaitu kawasan Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi, bersama dengan sungai lainnya, membentuk sebuah delta di dekat Kota Sungsang. Keberadaan Sungai Musi membelah Kota Palembang masih memberi citra tersendiri bagi warganya.
Kisah kota sungai atau kota de stad der twintig eilanden (kota 20 pulau) masih bisa dijual sebagai cerita wisata. Keberadaan sekitar 108 sungai yang pernah membelah kota Palembang dengan lembahnya yang berawa-rawa, kini tidak akan kita temukan lagi.
Begitu banyak sungai di kota Palembang dengan kehidupannya, maka orang-orang Eropa menyamakan Palembang dengan Venesia dari Timur, di samping itu disebut juga sebagai de stad der twintig eilanden (kota dua puluh pulau). Pulau-pulau ini terbentuk karena adanya anak-anak sungai yang memotong lembah yang ada, di samping memang di Sungai Musi ada pulau-pulau yaitu antara lain Pulau Kembaro (Kemaro) dan Pulau Kerto.
Sungai Tengkuruk tahun 1910
Sungai Tengkuruk tahun 1910
Jalan Tengkuruk tahun 1930, salah satu contoh sungai (Sungai Tenguruk) di kota Palembang yang sudah berubah menjadi jalan raya
Sungai Sekanak, salah satu anak sungai yang membelah kota Palembang
Di sepanjang perairan sungai Musi dapat kita temui sejumlah pemukiman penduduk dengan rumah rakitnya, pusat industri PT. Pusri, PT. Pertamina dan PT. Semen Baturaja, pulau Kemaro, kompleks pemakaman Bagus Kuning, situs makam raja-raja Kesultanan Palembang Darussalam, Pelabuhan Boom Baru, kampung Arab, Mesjid Lawang Kidul, Mesjid Ki Merogan, Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan masih banyak lagi.
musi.jpg
Sungai Musi dengan latar belakang Pabrik PT PUSRI
amperared.jpg
Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan AMPERA 
Alur pelayaran sungai Musi memiliki banyak tikungan. Di beberapa titik bahkan terjadi penyempitan alur. Kedalaman alur sangat tergantung dengan pasang surut air laut. Perbedaan pasang surut antara muara sungai Musi dengan Pelabuhan Boom Baru berkisar enam jam. Sehingga kapal-kapal yang mau masuk ke pelabuhan harus bisa menyesuaikan jadwal dengan kondisi ini.
Pasang surut Sungai Musi antara 30 cm sampai 275 cm bersifat harian tunggal. Artinya, kalau sedang surut, maka kapal harus menunggu satu hari baru dapat berjalan. Dalam kondisi begitu, sungai ini hanya bisa dilayari kapal berukuran sedang (draft sampai tujuh meter) selama enam jam per hari.
Sungai Musi memberikan pada penduduknya satu watak yang khas, bagaikan watak sungai tersebut, yaitu tenang di permukaan tetapi menghanyutkan di bawahnya. Inilah watak semon (semu) dari penduduk kota ini. Di samping itu arus pasang surut yang sangat berbeda di permukaan sungai, merupakan watak kontroversial dari penduduk yang lemah lembut yaitu dia dapat bereaksi di luar dugaan. Inilah gambaran umum (stereotype) masyarakat Palembang yang dilukiskan oleh pelapor dan penulis Belanda di zaman bari.*** [triyono-infokito]
***Rujukan
  • Humas Pemkot Palembang, Palembang Zaman Bari, PT Karya Unipress
  • http://www.setneg.ri.go.id
  • Harian Kompas, Edisi 8 Juli 2000
  • Berbagai sumber

Arti Nama Palembang
Nama Palembang banyak mempunyai arti. Pengertian yang mendekati kenyataan adalah apa yang diterjemahkan oleh R.J.Wilkinson dalam kamusnya ‘A Malay English Dictionary’ (Singapore, 1903): lembang adalah tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air. Menurut Kamus Dewan (karya Dr. T.Iskandar, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1986), lembang berarti lembah, tanah lekuk, tanah yang rendah. Untuk arti lain dari lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak. Sedangkan menurut bahasa Melayu, lembang berarti air yang merembes atau rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.
Menurut I.J. van Sevenhoven (Lukisan tentang Ibukota Palembang, Bhratara, Jakarta, 1971, hlm. 12), Palembang berarti tempat tanah yang dihanyutkan ke tepi, sedangkan Stuerler menerjemahkan Palembang sebagai tanah yang terdampar. Pengertian Palembang tersebut kesemuanya menunjukkan tanah yang berair. lni tidak jauh dari kenyataan yang ada, bahkan pada saat sekarang, yang dibuktikan oleh data statistik tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Sebagai catatan tambahan, di Kotamadya sekarang ini masih tercatat sebanyak 117 buah anak-anak sungai yang mengalir di tengah kota.
Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:
  • Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan
  • Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah
  • Daerah pesisir timur laut
Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban.
Kapan Nama Palembang ‘Lahir’?
Kapan nama Palembang “lahir” tepatnya belum dapat diperkirakan. Apakah nama ini lahir sejak Sriwijaya runtuh atau sebaliknya nama Palembang lahir lebih dahulu sebelum nama Sriwijaya “lahir”. Dari sumber Cina, yaitu kronik Chu-fan-chi, karya Chau Ju-kua tahun 1225, disebutkan nama Pa-lin-fong (Palembang), adalah salah satu bawahan San-fo-tsi.
Wang Ta-yuan dalam catatan perjalanannya Tao-i chih-lio (1349-1350), membedakan antara San-fo-tsi dengan Ku-kang (Kiu-Kiang), yaitu dua buah nama dan tempat yang berbeda. Menurut Ma-huan dalam Ying-yai-Sheng-lan ditulis tahun 1416, menyatakan bahwa Ku-kang adalah negeri yang dahulunya disebut San-fo-tsi (San-bo-tsai).
Dari kronik-kronik Cina, sebagian mengatakan bahwa pengertian San-fo-tsi dapat berarti Palembang dan juga Jambi. J.L.Moens mempertegas bahwa yang disebut kerajaan San-fo-tsi bukan hanya satu kerajaan saja, dia menyarankan bahwa ahli sejarah harus membedakan “San-fo-tsi Palembang” dan “San-fo-tsi Melayu”. Sayangnya J.L. Moens tidak tuntas menyelesaikannya.
Banyak penulis sejarah berpendapat kekeliruan penulisan Cina karena San-fo-tsi (Suarnabhumi atau Pulau Emas) dengan hanya menyebutkan nama pulaunya saja, tidak mendetil dengan nama-nama kerajaan di bagian pulau tersebut.
Nama Palembang pada zaman klasik, selain dalam catatan kronik Cina, juga tertulis dalam Nagarakertagama karangan Prapanca pada tahun 1365. Di dalam Pupuh XIII disebutkan negara-negara bawahan Majapahit di daerah Melayu adalah; Jambi, Palembang, Dharmasraya, Toba dan seterusnya.
Setelah zaman Islam nama Palembang menjadi populer dengan dimuatnya di dalam Babad Tanah Jawi (1680) dan Sejarah Melayu (1612). Sejarah Melayu aslinya ditulis sekitar tahun 1511, ditulis kembali dari pelbagai versi, antaranya oleh Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi yang menulis kembali teks tahun 1612. Teks yang menceritakan Palembang dari Sejarah Melayu:
….. ada sebuah negeri di tanah Andalas, Perlembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak-cucu Raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru namanya.
triyono-infokito


25 September 2010

Hari yang mendung. Kenapa mendung? Yah, karena hari ini tuh hujan terus dari pagi sampai sore. Yah masih mending cuma hujan aja, ini jalanan pada banjir. Mana gue uda planning hari ini gue mau ke rumah temen yang jaraknya lumayan jauh. Alhasil dari pagi mau jalan kesono keujanan, trus pulangnya juga keujanan (swt!!). Bedanya kalo pagi gue ga kebanjiran, tp sore??? Wah banjir dimana-mana, macet pula. Khususnya banjir di bawah jempatan layang itu lho... Pemda kota Palembang seharusnya antisipasi donk situasi yang kayak gini. Oke lah kalo banjirnya cuma di deket rumahku aja, toh kan jalan kecil. Ini di Jalan Jend. Sudirman yang merupakan jalan utama kota Palembang, banjir?? Di bawah jembatan layang khususnya.Satu lagi nih yang harus diperhatikan oleh Pemda kota Palembang, yaitu soal kemacetan. Kayaknya kemacetan di kota Palembang uda makin parah hari ke hari. Bayangkan, jalan-jalannya masih sama tapi mobil-mobil dan motor-motor tiap hari bertambah jumlahnya, gimana ga macet coba? Ayo Pemda Palembang, kita buat kota kito tercinto ini jadi kota yang bebas banjir & bebas macet. Kalo bisa gue input saran, ntr kn di kota baru Grand Citra City (kalo ga salah) jalan-jalannya diatur sedemikian rupa aja supaya ga macet dan banjir sebagai antisipasi. Siapa tw entar Palembang dijadiin ibukota negara Indonesia (ngarep), haha. Semangat !!!

Salam,
Girl On The Move


30-01-2016

Welcome to Palembang now days.............

Sudah bertahun-tahun yah. saya ga update page ini, tetapi mulai sekarang bakalan saya update terus nih. Topiknya cuma ALL ABOUT PALEMBANG !!! OUR LOVELY CITY, KOTA PEMPEK. :D

Seperti yang wong kito semua udah tau nih, Palembang sekarang menjadi tuan rumah ASIAN GAMES 2018. Sebagai tuan rumah yang baik, biasanya kita menghias rumah kita donk sebelum tamu-tamu kita datang. Untuk itu, kota Palembang sekarang sedang dipermak. Dari Jembatan Layang di Plaju, sampai pembangunan LRT di Palembang !!!
Akhirnya LRT hadir di Palembang !!! Itu yang saya pikirkan sejak mengetahui proyek tersebut sedang dijalanin di Palembang. Progresnya pun lumayan cepat kalau saya perhatikan sejak awal tahun baru 2016 ini. Bayangin, Palembang punya LRT nyaingin Jakarta, hehe...

Apa sih beda LRT sama MRT?
Kepanjangan LRT adalah Light Rail Tranait, sedangkan MRT adalah Mass Rapid Station.
Secara penggunaan, LRT dan MRT itu sama saja fungsinya. Yaitu sebagai alat transportasi massal menyerupai kereta tetapi menggunakan listrik. Di negara ASEAN yang sudah mempunyai LRT dan MRT lebih dari Indonesia adalah seperti Malaysia, Singapore, Thailand, dan Manila.

1. Daya angkut (kapasitas)
Kapasitas LRT jauh lebih kecil dari MRT.
Namun hal ini kayaknya ga berlaku di Kuala Lumpur, Malaysia. Karena menurut pengalaman saya, LRTnya KL itu lebih panjang dibandingin MRTnya. Atau mereka salah kasih nama ya? Ga tau juga, but its the fact. haha

2. Perlintasan
MRT itu biasanya dibangun di bawah tanah (underground)., sedangkan LRT di jalur layang (elevated).
Rute planniung LRT PLG yang akan dibangun di Palembang pun, berawal dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sampai Jakabaring.

 2 hal itu saja sih yang membedakan antara LRT dan MRT. Secara akomodasi dan penggunaan LRT dan MRT semua sama.

Namun apakah pembangunan LRT di Palembang ini akan berfungsi semaksimal mungkin? Berikut hal-hal yang saya kira harus diperhatikan, yaitu stasiun pemberhentian, tempat parkir di stasiun ujung, fasilitas pejalan kaki, dan tata cara penggunaan LRT, serta biaya naik LRTnya. Berikut pembahasannya di bawah ini.
Kalau yang saya perhatiin dari negara tetangga (KL), stasiun (tempat pemberhentian seperti halte bus) LRT dan MRT mereka itu semuanya berada di tempat-tempat strategis seperti bandara, shopping centre, campus centre, bisnis centre, pusat kota, dan tempat wisata. Kalau Anda-anda pernah pergi ke KL secara independen dan menggunakan fasititas LRT & MRT disana, kalian pasti uda tahu. Yang saya lihat sekilas dari proses pembangunan LRT di PLG ini kayaknya udah kena di spot-spot rame, seperti airport, pasar KM.5, pasar Cinde, Masjid Agung, dan Mall di sekitar Palembang icon.

Nah selain itu, di ujung rute LRT dan MRT mereka juga tersedia tempat parkir kendaraan yang luas. Ini dikarenakan, pemerintah mereka ingin memaksimalkan penggunaan LRT dan MRT sekaligus meminimkan kendaraan di pusat kota agar tidak terlalu banyak dan mengurangi macet.










Berbicara tentang fasilitas LRT, akan tidak jauh dengan fasilitas pejalan kaki. Mengapa?
Karena stasiun pemberhentian mungkin adalah spot ramai, tapi tidak semua orang mempunyai tujuan tepat di statiun tersebut. Mungkin tujuannya berada disekitar stasiun tersebut. Misalnya Anda ingin ke PS Mall, stasiun pemberhentiannya mungkin akan berada di dekat Palembang Icon Mall. Jadi Anda harus, jalan kaki lagi ke PS Mall. Nah, karena hal inilah, fasilitas pejalan kaki harus disediakan secara benar.
Apabila Anda pernah ke Bangkok Thailand, sistem MRT/LRT mereka itu sangatlah panjang dan banyak stasiunnya. Beberapa stasiun di tengah kota, bahkan tidak jauh dari yang lainnya, sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan langsung terhubung ke gedung Mall atau pusat perbelanjaan disana. Hal ini sangat efisien untuk mengurangi kemacetan yang merupakan salah satu GOL dari pembangunan LRT ini. So, semoga LRT di Palembang bisa kayak gitu juga ya. :D

Tata Cara Penggunaan LRT - Ini merupakan HAL YANG CUKUP PENTING
1. Tidak boleh makan dan minum di dalam gerbong
2. Berikanlah tempat duduk untuk lansia, wanita hamil, wanita dengan anak-anak, dan orang cacat.
3. Tidak membuang sampah sembarang di gerbong LRT alias jagalah kebersihan.
4. DLL.
Semua peraturan itu dibuat agar kita semua aman dan nyaman dalam menggunakan fasilitas umum ini. Jadi, ayo kita patuhin aturannya. :)

Biaya Alias Ongkos LRT

Nah, ini tentunya saya ga tau berapa. Cuma yang pasti semakin jauh tujuannya akan semakin mahal ongkosnya. Cengli lah... :D
Semoga  Bapak-Bapak pejabat PLG penentu Ongkos LRT PLG itungnya bisa seekonomis mungkin ya. Jadi, semua orang "memilih" naik LRT dibanding naik kendaraan pribadi. Jadi jalanan di Palembang ga macet lagi, dan everybody happy. hehee

Okay, I think this enough for today. See you in my next article. :D





     

0 komentar:

Posting Komentar