KALIMANTAN TIMUR
1. Pulau Derawan
Sebuah nirwana tropis berada di salah satu pulau wilayah Provinsi
Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan di Selat Sulawesi, tak
jauh dari perbatasan Malaysia. Pulau Derawan menjadi sebuah destinasi
wisata bahari pilihan menawan buat Anda yang menyukai pantai dengan
hamparan pasir putih lembut berkilat serta air jernih. Apalagi ditambah
bonus menjumpai penyu-penyu jinak yang berenang-renang riang saat kita
melakukan penyelaman.
Terkadang saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur di sana.
Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil di tengahnya, membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yang tersisa, kenangan mendalam.
Dr. Carden Wallace dari Museum Tropis Queensland, Australia pernah meneliti kekayaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Tak salah kiranya jika Pulau Derawan terkenal sebagai urutan ketiga teratas di dunia sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf internasional
Pulau ini memang relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri karena untuk mencapainya butuh perjuangan tersendiri yang cukup berliku. Anda mesti menuju ke Balikpapan dulu dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar, untuk menuju pulau ini. Kurang lebih dua jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan.
Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selama satu jam dengan menaiki pesawat kecil yang dilayani oleh KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat menuju pulau Derawan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.
Banyak wisatawan manca negara yang baru turun dari pesawat di bandara Kalimarau, Tanjung Redeb langsung berangkat ke pulau Derawan dengan motorboat yang sudah ditambatkan di sebuah pelabuhan khusus.
Alternatif lain bisa juga melalui perjalanan darat dari Balikpapan ke Tanjung Batu lalu dari sana menyeberang ke Pulau Derawan. Hanya saja ini bukan pilihan yang bagus karena perjalanan penyeberangan itu sendiri memakan waktu hingga belasan jam dengan medan yang relatif tidak menyenangkan.
Meskipun begitu, tahukah Anda, justru banyak wisatawan asing yang
sudah tahu lebih banyak soal keberadaan pulau eksotis ini. Sejumlah
wisatawan Jepang dari Tokyo melalui travel yang ada di sana “tembak
langsung” berangkat ke Singapura atau ke Sabah kemudian melanjutkan
perjalanan ke Balikpapan, lalu ke Tanjung Redeb menggunakan pesawat
kecil.
Mereka memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk menikmatinya selama mungkin.
Tak usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah, ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai “Blue Trigger Wall” karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes).
Pulau Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage), penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar. Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam.
Masih belum puas?
Anda dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan. Misalnya: Pulau Sangalaki, Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula ditemui—jika cukup beruntung—ikan pari hitam dengan lebar “bentang sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.
(Oleh AT Gobel)
“Dari pertama kali digelar lima tahun silam, acaranya itu-itu saja. Misalnya pidato tentang upaya pengembangan wisata, kemudian membuka acara, meninjau pasar malam dan melihat tarian-tarian daerah yang diperlombakan.
Event ini memiliki potensi besar untuk menyedot wisatawan nusantara atau mancanegara datang ke Kaltim untuk melihat Festival Kemilau Kaltim karena menghadirkan penari dari 14 kabupaten dan kota se- Kalimantan Timur,” imbuh dia.
Kegiatan ini dimeriahkan berbagai lomba, seperti tari tradisional, musik dan lagu daerah serta olahraga tradisional. Tak hanya lomba, peserta juga dilibatkan untuk menampilkan hasil ketrampilan daerah masing-masing dalam sebuah pameran akbar.
Taman
Nasional Kayan Mantarang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa bernilai tinggi baik jenis langka maupun dilindungi,
keanekaragaman tipe ekosistem dari hutan hujan dataran rendah sampai
hutan berlumut di pegunungan tinggi. Keanekaragaman hayati yang
terkandung di Taman Nasional Kayan Mentarang memang sangat mengagumkan.
Keberadaan sekitar 20.000-25.000 orang
dari berbagai kelompok etnis Dayak yang bermukim di sekitar kawasan
Taman Nasional Kayan Mantarang seperti Kenyah, Punan, Lun Daye, dan Lun
Bawang, ternyata memiliki pengetahuan kearifan budaya sesuai dengan
prinsip konservasi. Hal ini merupakan salah satu keunikan tersendiri di
Taman Nasional Kayan Mentarang. Keunikan tersebut terlihat dari
kemampuan masyarakat melestarikan keanekaragaman hayati di dalam
kehidupannya. Sebagai contoh berbagai varietas dan jenis padi
terpelihara dan terkoleksi dengan cukup baik untuk menunjang kehidupan
masyarakat sehari-hari.
Biasanya, setelah menyelam atau Snorkelling di perairan laut Kakaban, banyak yang menyempatkan diri melakukan hal serupa di Danau Kakaban.
Untuk mencapai lokasi danau, pengunjung harus mendaki gunung dan bukit
yang dipenuhi dengan pepohonan. Lebih mengagumkan, banyak pohon
Mangrove yang tumbuh dengan kokoh di atas bebatuan karang. Di danau air
asin ini, terdapat antara lain ubur-ubur endemik dari jenis Cassiopea
yang dengan mudah ditemukan berenang di kolam air. Sementara darat
perairannya dipenuhi dengan alga Halimeda, Sponges jenis Porifera dan
ikan gobi.
Tak jarang kumpulan paus atau
lumba-lumba melintasi atau mencari makan di perairan sekiter Pulau
Kakaban dan Maratua menjadi tontonan yang menarik. Pemandangan tak kalah
menawan juga ada di sekitar Taman Wisata
Pulau Sangalaki. Di perairan ini, sering terlihat ikan pemangsa
plankton muncul dan berkumpul. Sering membuat orang tercengang tentu
saja kehadiran belasan pari manta hantu (Manta Birostris) berukuran
raksasa. Hewan-hewan ini berenang sambil membuka mulutnya menyaring
plankton. Mereka sama sekali tak terusik kehadiran penyelam atau
pengemar Snorkelling yang berusaha mengikutinya.
Terkadang saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur di sana.
Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil di tengahnya, membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yang tersisa, kenangan mendalam.
Dr. Carden Wallace dari Museum Tropis Queensland, Australia pernah meneliti kekayaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Tak salah kiranya jika Pulau Derawan terkenal sebagai urutan ketiga teratas di dunia sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf internasional
Pulau ini memang relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri karena untuk mencapainya butuh perjuangan tersendiri yang cukup berliku. Anda mesti menuju ke Balikpapan dulu dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar, untuk menuju pulau ini. Kurang lebih dua jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan.
Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selama satu jam dengan menaiki pesawat kecil yang dilayani oleh KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat menuju pulau Derawan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.
Banyak wisatawan manca negara yang baru turun dari pesawat di bandara Kalimarau, Tanjung Redeb langsung berangkat ke pulau Derawan dengan motorboat yang sudah ditambatkan di sebuah pelabuhan khusus.
Alternatif lain bisa juga melalui perjalanan darat dari Balikpapan ke Tanjung Batu lalu dari sana menyeberang ke Pulau Derawan. Hanya saja ini bukan pilihan yang bagus karena perjalanan penyeberangan itu sendiri memakan waktu hingga belasan jam dengan medan yang relatif tidak menyenangkan.
Mereka memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk menikmatinya selama mungkin.
Tak usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah, ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai “Blue Trigger Wall” karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes).
Pulau Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage), penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar. Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam.
Masih belum puas?
Anda dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan. Misalnya: Pulau Sangalaki, Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula ditemui—jika cukup beruntung—ikan pari hitam dengan lebar “bentang sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.
(Oleh AT Gobel)
2. Festival Kemilau Kalimantan Timur
Festival Kemilau Kalimantan Timur
Festival Kemilau Kaltim yang sudah lima kali digelar kian terjebak
menjadi event serimonial rutin tahunan, seperti HUT RI setiap 17 Agustus
atau Hari Pahlawan Nasional setiap 10 November, padahal tujuannya untuk
mengembangkan sektor kepariwisataan. salah satu masalah, lemahnya
promosi hanya ada beberapa baliho Samarinda -
Acara pada 11-13 November 2010 itu tidak ada hal yang khusus atau
luar biasa sehingga acaranya belum “berkemilau” bahkan kini cenderung
terjebak menjadi acara serimonial yang rutin dirayakan setiap tahun.“Dari pertama kali digelar lima tahun silam, acaranya itu-itu saja. Misalnya pidato tentang upaya pengembangan wisata, kemudian membuka acara, meninjau pasar malam dan melihat tarian-tarian daerah yang diperlombakan.
Event ini memiliki potensi besar untuk menyedot wisatawan nusantara atau mancanegara datang ke Kaltim untuk melihat Festival Kemilau Kaltim karena menghadirkan penari dari 14 kabupaten dan kota se- Kalimantan Timur,” imbuh dia.
Kegiatan ini dimeriahkan berbagai lomba, seperti tari tradisional, musik dan lagu daerah serta olahraga tradisional. Tak hanya lomba, peserta juga dilibatkan untuk menampilkan hasil ketrampilan daerah masing-masing dalam sebuah pameran akbar.
Tarian Kenyah Bulungan |
Tarian Melayu Tarakan |
|||||||
Tarian Hudoq Kubar |
Tarian Perang Kukar |
3. Taman Nasional Kayan Mentarang
Taman Nasional Kayan Mentarang , kawasan wisata alam meliputi Pantai Pulau Datok dan Bukit Lubang Tedong, Gunung Palung , Gunung Panti ,Cabang Panti, Kampung Baru, Sungai Matan dan Sungai Simpang, dengan
luasnya 1.360.500 hektar, merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer
dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan
dan seluruh Asia Tenggara.
Pengamatan tumbuhan pulai , jelutung ,
ramin , Agathis , kayu ulin , rengas , gaharu , aren , berbagai jenis
anggrek, palem, dan kantong semar. Selain itu, ada beberapa jenis
tumbuhan yang belum semuanya dapat diidentifikasi karena merupakan jenis
tumbuhan baru di Indonesia. serta mamalia endemik, primata (Beberapa
jenis mamalia langka seperti macan dahan, beruang madu, lutung dahi
putih , banteng) dan beberapa jenis burung terancam punah.
Sungai-sungai
yang ada di Taman Nasional Kayan Mantarang seperti S. Bahau, S. Kayan
dan S. Mentarang digunakan sebagai transportasi menuju kawasan. Selama
dalam perjalanan, selain dapat melihat berbagai jenis satwa yang ada di
sekitar sungai, juga dapat melihat kelincahan longboat dalam melewati
jeram, ataupun melawan arus yang cukup deras.
Banyak peninggalan arkeologi berupa
kuburan dan alat-alat dari batu yang terdapat di taman nasional (umurnya
lebih 350 tahun), dan diperkirakan merupakan situs arkeologi yang
sangat penting di Kalimantan.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Pantai Pulau Datok dan Bukit Lubang Tedong. Wisata bahari dan berenang
Gunung Palung (1.116 m. dpl) dan Gunung Panti (1.050 m. dpl). Pendakian, air terjun, pengamatan tumbuhan/satwa dan berkemah.
Cabang Panti. Pusat penelitian dengan fasilitas stasiun penelitian, wisma peneliti dan perpustakaan.
Kampung Baru. Pengamatan satwa bekantan.
Sungai Matan dan Sungai Simpang. Menyelusuri sungai, pengamatan satwa dan wisata budaya (situs purbakala).
Pantai Pulau Datok dan Bukit Lubang Tedong. Wisata bahari dan berenang
Gunung Palung (1.116 m. dpl) dan Gunung Panti (1.050 m. dpl). Pendakian, air terjun, pengamatan tumbuhan/satwa dan berkemah.
Cabang Panti. Pusat penelitian dengan fasilitas stasiun penelitian, wisma peneliti dan perpustakaan.
Kampung Baru. Pengamatan satwa bekantan.
Sungai Matan dan Sungai Simpang. Menyelusuri sungai, pengamatan satwa dan wisata budaya (situs purbakala).
Keanekaragaman hayati bernilai tinggi dan
masih alami, merupakan tantangan bagi para peneliti untuk mengungkapkan
dan mengembangkan pemanfaatannya. Disamping itu keindahan alam hutan,
sungai, tebing, kebudayaan suku Dayak merupakan daya tarik yang sangat
menantang bagi para petualang dan wisatawan.
Kunjungan terbaik: bulan September s/d Desember setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi :Cara pencapaian lokasi: Dari Samarinda ke Tarakan (plane) sekitar satu jam, dilanjutkan menggunakan speed boat/klotok menyusuri sungai Mentarang ke lokasi dengan waktu enam jam sampai satu hari.[dephut.go.id]
Cara pencapaian lokasi :Cara pencapaian lokasi: Dari Samarinda ke Tarakan (plane) sekitar satu jam, dilanjutkan menggunakan speed boat/klotok menyusuri sungai Mentarang ke lokasi dengan waktu enam jam sampai satu hari.[dephut.go.id]
Taman Nasional Kayan Mentarang
(TNKM) termasuk Cagar Alam , TNKM memiliki kawasan hutan primer dan
skunder tua terbesar yang masih tersisa di Pulau Borneo dan kawasan Asia
Tenggara.
Nama Kayan Mentarang diambil dari dua nama sungai penting yang ada di kawasan taman nasional, yaitu Sungai Kayan di sebelah selatan dan Sungai Mentarang di sebelah utara ada juga mengatakan nama ini diambil dari nama dataran tinggi / plato di pegunungan setempat yang bernama Apau Kayan yang membentang luas (mentarang) dari daerah Datadian / Long Kayan di selatan melewati Apau Ping di tengah dan Long Bawan di utara.
Hamparan hutan ini membentang di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di wilayah Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan, berbatasan langsung dengan Sabah dan Sarawak, Malaysia. Sebagian besar kawasan masuk dalam Kabupaten Malinau dan sebagian lagi masuk dalam Kabupaten Nunukan. Potensi wisata di Taman Nasional Kayan Mentarang ialah Hulu Pujungan, Hulu Krayan dan Hulu Kayan/Datadian.
Nama Kayan Mentarang diambil dari dua nama sungai penting yang ada di kawasan taman nasional, yaitu Sungai Kayan di sebelah selatan dan Sungai Mentarang di sebelah utara ada juga mengatakan nama ini diambil dari nama dataran tinggi / plato di pegunungan setempat yang bernama Apau Kayan yang membentang luas (mentarang) dari daerah Datadian / Long Kayan di selatan melewati Apau Ping di tengah dan Long Bawan di utara.
Hamparan hutan ini membentang di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di wilayah Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan, berbatasan langsung dengan Sabah dan Sarawak, Malaysia. Sebagian besar kawasan masuk dalam Kabupaten Malinau dan sebagian lagi masuk dalam Kabupaten Nunukan. Potensi wisata di Taman Nasional Kayan Mentarang ialah Hulu Pujungan, Hulu Krayan dan Hulu Kayan/Datadian.
Kawasan TNKM terletak pada ketinggian
antara 200 meter sampai sekitar ±2.500 m di atas permukaan laut,
mencakup lembah-lembah dataran rendah, dataran tinggi pegunungan, serta
gugus pegunungan terjal yang terbentuk dari berbagai formasi sedimen dan
vulkanis.
Tipe-tipe utama adalah hutan Dipterokarp,
hutan Fagaceae-Myrtaceae atau hutan Ek, hutan pegunungan tingkat tengah
dan tinggi (di atas 1.000 m di atas permukaan laut), hutan agathis,
hutan kerangas, hutan rawa yang terbatas luasnya, serta suatu tipe
khusus “hutan lumut” dipuncak-puncak gunung diatas ketinggian 1.500 m di
atas permukaan laut. Selain itu, terdapat pula berbagai jenis hutan
sekunder. Hutan di wilayah sepanjang sungai Bahau adalah hutan
perbukitan dengan tebing-tebing terjal yang sangat sulit untuk didaki
dari tepi sungai. Hutan di wilayah ini memiliki banyak sekali air terjun
dari berbagai ukuran, alur aliran air terjun yang berukuran kecil
mempunyai tepi sungai yang cukup landai dan dipergunakan oleh masyarakat
sekitar untuk memasuki hutan di kawasan ini. Pujungan juga dikenal
sebagai daerah di mana matahari tidak pernah terbit dan tidak pernah
tenggelam sebab sering tertutup oleh kabut atau awan. Walaupun demikian,
pendarnya sinar matahari dari balik kabut atau awan tersebut mampu
membuat kulit kita memerah terbakar tanpa merasakan teriknya panas
matahari karena cukup dinginnya suhu di daerah ini. Dapat dibayangkan
dinginnya suhu di daerah Apau Ping di hulu Pujungan.
Bukan seperti pada umumnya sungai yang
berasal dari 1 mata air di daerah hulu pegunungan yang kemudian mengalir
bercabang-cabang ke hilir hingga menuju ke muara, sungai-sungai di
taman nasional Kayan Mentarang berasal dari banyak mata air di banyak
hulu daerah pegunungan dan mengalir menjadi 1 sungai yang besar menuju
ke hilir hingga ke muara. Pada wilayah selatan taman nasional terdapat
sungai Kayan yang bermuara setelah membelah kecamatan Tanjung Selor dan
Tanjung Palas, berasal dari belasan mata air di hulu Kayan dan hulu
Pujungan. Simpang Koala adalah area pertemuan antara sungai Bahau dan
sungai Kayan adalah batas wilayah kabupaten Bulungan dan kabupaten
Malinau. Arus sungai Kayan di daerah Tanjung Selor sangat tenang dan
mulai bergejolak saat memasuki wilayah Long Lejau. Arus sungai Bahau
sangat bervariasi dari ketenangan yang tidak berarus hingga gejolak
arung jeram. Masyarakat Dayak hulu Pujungan memberi sebutan sungai Bahau
sebagai sei giram yang berarti sungai berbatu yang berarus deras. Dan
masyarakat di daerah ini adalah pengemudi-pengemudi perahu yang ulung
dan kompak. Sungai Bahau pada daerah Long Aran mempunyai ketinggian air
paling rendah dan sering menyebabkan para pengemudi perahu serta
kepolisian setempat bahu-membahu menarik perahu kandas yang mempunyai
panjang bisa mencapai hingga 20 meter itu beramai-ramai. Profil bebatuan
di kedua sungai ini juga berbeda, profil bebatuan yang dijumpai pada
sungai Kayan mulai daerah Tanjung Selor hingga Simpang Koala, dan profil
bebatuan di sungai Bahau yang ditemui sejak area Simpang Koala hingga
hulu Pujungan
Flora dan Fauna
Beberapa tumbuhan yang ada antara lain pulai (Alstonia scholaris), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), Agathis (Agathis borneensis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), rengas (Gluta wallichii), gaharu (Aquilaria malacensis), aren (Arenga pinnata),
berbagai jenis anggrek, palem, dan kantong semar. Selain itu, ada
beberapa jenis tumbuhan yang belum semuanya dapat diidentifikasi karena
merupakan jenis tumbuhan baru di Indonesia.
Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata dan lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik Kalimantan serta telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah.
Beberapa jenis mamalia langka seperti macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata), dan banteng (Bos javanicus lowi)
Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata dan lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik Kalimantan serta telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah.
Beberapa jenis mamalia langka seperti macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata), dan banteng (Bos javanicus lowi)
Jenis flora yang dilaporkan ada dalam
kawasan ini di antaranya termasuk ratusan jenis anggrek dan sedikitnya
25 jenis rotan. Selain itu juga telah berhasil diinventaris ratusan
jenis burung termasuk jenis baru untuk Kalimantan dan Indonesia, jenis
endemik dan jenis yang hampir punah. Beberapa jenis yang menarik
diantaranya adalah jenis Enggang, Kuau Raja, Sepindan Kalimantan dan
jenis-jenis Raja Udang.
TNKM juga merupakan habitat bagi banyak jenis satwa dilindungi seperti banteng (Bos javanicus), beruang madu (Helarctos malayanus), trenggiling (Manis javanica), macan dahan (Neofelis nebulosa), landak (Hystrix brachyura), dan rusa sambar (Cervus unicolor).
Pada musim-musim tertentu di padang rumput di hulu Sungai Bahau,
berkumpul kawanan banteng yang muncul dari kawasan hutan disekitarnya
dan menjadi sebuah pemandangan yang menarik untuk disaksikan.
Budaya
Di dalam dan di sekitar TNKM ditemukan beraneka ragam budaya yang merupakan warisan budaya yang bernilai tinggi untuk dilestarikan. Sekitar 21.000 orang dari bermacam etnik dan sub kelompok bahasa, yang dikenal sebagai suku Dayak, bermukim didalam dan disekitar taman nasional. Komunitas Dayak, seperti suku Kenyah, Kayan, Lundayeh, Tagel, Saben dan Punan, Badeng, Bakung, Makulit, Makasan mendiami sekitar 50 desa yang ada didalam kawasan TNKM.
Di dalam dan di sekitar TNKM ditemukan beraneka ragam budaya yang merupakan warisan budaya yang bernilai tinggi untuk dilestarikan. Sekitar 21.000 orang dari bermacam etnik dan sub kelompok bahasa, yang dikenal sebagai suku Dayak, bermukim didalam dan disekitar taman nasional. Komunitas Dayak, seperti suku Kenyah, Kayan, Lundayeh, Tagel, Saben dan Punan, Badeng, Bakung, Makulit, Makasan mendiami sekitar 50 desa yang ada didalam kawasan TNKM.
Ditemukannya kuburan batu di hulu Sungai
Bahau dan hulu Sungai Pujungan, yang merupakan peninggalan suku Ngorek,
mengindikasikan bahwa paling tidak sejak kurang lebih 400 tahun yang
lalu masyarakat Dayak sudah menghuni kawasan ini. Peninggalan arkeologi
yang paling padat ini diperkirakan sebagai peninggalan yang paling
penting untuk pulau Borneo.
| Taman Nasional Kayan Mantarang - KalTim |
Masyarakat di dalam kawasan taman
nasional masih sangat bergantung pada pemanfaatan hutan sebagai sumber
penghidupan, seperti kayu, tumbuhan obat, dan binatang buruan. Mereka
juga menjual tumbuhan dan binatang hasil hutan, karena hanya ada sedikit
peluang untuk mendapatkan uang tunai. Pada dasarnya masyarakat
mengelola sumber daya alam secara tradisional dengan mendasarkan pada
variasi jenis. Sebagai contoh banyak varietas padi ditanam, beberapa
jenis kayu digunakan untuk bahan bangunan, banyak jenis tumbuhan
digunakan untuk obat, dan berbagai jenis satwa buruan.
3. Pulau Kakaban
Pulau Kakaban mempunyai luas 774,2 hektar dan terletek di Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pulau Kakaban menarik perhatian turis-turis mancanegara dengan beberapa keunikannya, salah satunya adanya danau di pulau tersebut yaitu Danau Kakaban.
Yang mana pada danau tersebut diisi oleh campuran dari air hujan dan
rembesan air laut dari pori-pori tanah dan membuat suatu habitat endemik
yang berbeda pada kebanyakan kawasan danau lain di dunia, selain Danau
Kakaban ada satu lagi danau dengan air payau yaitu di Kepulauan Palau,
Mikronesia.
Sering menjadi buah bibir para penyelam,
adalah atraksi alami gerombolan barakuda di perairan Pulau Kakaban.
Suasana itu menjadi semakin komplit sering munculnya jenis hiu, pari dan
ikan-ikan karang eksotik lainnya. Seperti ikan Napoleon (Napoleon
Wrasse). Tak mengherankan kalau saat ini, sudah ada tiga perusahaan
swasta berfungsi sebagai resort penyelaman di Derawan dan sekitarnya.

0 komentar:
Posting Komentar