Sabtu, 18 September 2010

Sore Yang Panas Sambil Jaga Net (Check Out My Book Collection Here)

Sore-sore jaga net, barusan ganti shift ni sama adekku, sambil makan melon (manis banget lho melonnya, hehe), gue mau nulis judul-judul buku yang gue uda koleksi sampai sekarang. Sebenarnya niatku ini uda lama, tapi baru terealisasi sekarang, ya gpp lah daripada ga sama sekali ya ga? =p
Sebagian besar sih novel fiksi, nih semua buku yang uda gue kumpulin dari gue SMA. Ga terlalu banyak sih, soalnya mamaku suka ngomel kalo aq beli buku terus, tp gue tetep aja beli, haha.
  1. Johanna Lindsey - Judul : The Devil Who Tamed Her (Pelajaran Cinta dari Sang Iblis Penggoda)
  2. Johanna Lindsey - Judul : You Belong To Me - Pertunangan Panas di Musim Dingin Cardinia
  3. Melissa Bank - The Girl'S Guide to Hunting and Fishing 
  4. Julia Quinn - Duke of Wyndham yang Hilang (The Lost Duke of Wyndham)
  5. Daniel Keyes - The Fifth Sally (Sally & 4 Teman Rahasia)
  6. Kozue Takeuchi - Ageha 100% Vol.5 - Komik
  7. Shin Ji Sang & Ji Oh - Song Vol.1 - Vol. 10 (End) - Komik
  8. Lisa Kleypas - Mine Till Midnight (Janji di Tengah Malam)
  9. Linda Lenhoff - Life ala Mode (Chicklit)
  10. Alisa Kwitney - Does she or doesn't she? (Benarkah dia begitu atau tidak?) Chicklit
  11. Alisa Kwitney - The Dominant Blonde (Si Pirang Yang Dominan)
  12. Trinity (nama alias) - The Naked Traveller (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)
  13. Editor : Stephanie & John Meyer - Love & Relationships - Kisah-kisah remaja tentang cinta, kasih sayang & persahabatan (Teen Ink)
  14. Linda Howard - Cover of Night (Selimut Malam).
  15. Nora Roberts - The MacGregors - For Now, Forever (Sekarang & Selamanya)
  16. Nora Roberts - The MacGregors - The Perfect Neighbor (Tetangga Yang Sempurna)
  17. Nora Roberts - The MacGregors - Playing The Odds (Cinta Yang Dipertaruhkan)
  18. Nora Roberts - This Magic Moment (Momen Penuh Keajaiban)
  19. Sandra Brown - 22 Indigo Place
  20. Sandra Brown - Eloquent Silence (Gaung Keheningan)
  21. Sandra Brown - Thursday'S Child (Peran Ganda)
  22. Sandra Brown - Led Astray (Pelabuhan Hati)
  23. Sandra Brown - In a Class By Itself (Reuni)
  24. Sandra Brown - Two Alone (Biarkan Aku Mencintaimu)
  25. Allesia Holiday - American Idle (Pengangguran Amerika)
  26. Elizabeth Kostova - The Historian (Sang Sejarawan) - Fakta x Fiksi x Sejarah
  27. Kate DiCamillo - The Miraculous Journey of Edward Tulane - Novel Anak-anak (19 Sept'10)
  28. Trinity - Naked Traveler 2 - Traveling Book (19 Sept'10)
  29. Linda Howard - Killing Time (Menembus Waktu) - Novel Romance (19 Sept'10)
  30. Valeri Frankel - Not So Perfect Man (Pria Yang Tidak Terlalu Sempurna) - Chicklit
  31. Dave Pelzer - The Privilege of Youth (based on true story) - Novel (19 Sept'10)
  32. Sherillyn Kenyon - Dark Hunter Series (Almost Complete) - 2012 - 2013
My favorites are Nora Roberts - MasGregors serial, Sandra Brown - Thursday'S Child, & Johanna Lindsey- The Devil Who Tamed Her, & Allesia Holiday-American Idle. :D
Next time, kalo sempet ntr gue lampirin gambar cover sama resensi novelnya juga ya. :)

Ini gambar-gambar Cover My Collection Books.


Resensi buku :
Selama ini, kebanyakan isi tulisan perjalanan di media hanyalah tentang sesuatu yang indah-indah. Kita serasa disodori brosur yang menggunakan bahasa berbunga-bunga dan foto-foto hasil rekayasa digital agar pembaca tergerak untuk mengunjungi tempat tersebut.
Padahal traveling tidak selalu enak dan nyaman. Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Kenangan perjalanan yang paling diingat Trinity pun bukanlah tentang keindahan arsitektur suatu bangunan atau putihnya pasir pantai, tapi pesawat yang delay atau orang lokal yang tidak ramah.
Pengalaman (yang sering tidak terduga) saat melakukan perjalanan jauh lebih berwarna. Seperti kata pepatah : it's not the destination, but the journey.






Salam,
Bella ^_^



Dibawah ini beberapa cuplikan dari Buku Teen Ink Kisah Kisah-kisah remaja tentang cinta, kasih sayang & persahabatan. Enjoy !!! :)

Cinta Tidak Memandang Warna

Aku menuliskan kisah ini pada buku catatan lusuh yang kutemukan di dalam tasku. Lembar-lembar kertasnya sudah sangat kumal, bolpoinku hampir kehabisan tinta, dan kepalaku juga pening. Rasa-rasanya aku mulai mengidap migrain ringan.

Aku berada di Tokyo (ya, Tokyo, Jepang), duduk di bangku di salah satu tamannya yang terkenal, sambil menulis. Aku selalu menulis. Kurasa menulis sudah menjadi semacam terapi bagiku.

Aku menulis tentang dirimu. Berpikir tentang kamu pun sudah membuatku tersenyum. Kamu masih ingat hari ketika kita pertama kali bertemu? Sejujurnya kukatakan waktu itu aku tidak terlalu tertarik padamu, begitu pula kamu padaku. Sejujurnya juga kukatakan bahwa aku memberikan nomor teleponku padamu dan pada tiga orang lain (kamu pasti tidak tahu itu). Tapi kamu yang pertama meneleponku. Dan aku senang.

Maka kita pun mengobrol-aku, dengan berbagai analogi. Lucu ya, betapa aku selalu bicara dalam analogi. Kamu sendiri cukup terus terang dan jujur, kukagumi sifatmu itu, Banyak orang suka berbohong di dunia ini. Tapi kamu jujur padaku, dan itulah yang membuatku sayang padamu. Kamu bisa menerima analogi-analogiku (bahkan memahami beberapa di antaranya), dan kamu mendorongku - menantangku malah - untuk berani menyampaikan apa-apa yang kupikirkan. Selama ini aku selalu bersembunyi di balik analogi-analogiku, tapi sebagai individu yang perspektif kamu bisa melihat diriku yang sesungguhnya. Aku juga tak berdaya terhadapmu dan kamu terhadapku. Tapi kita tidak saling memanfaatkan hal tersebut, berlawanan dengan yang kadang dilakukan orang-orang.

Sesekali, kalau sedang menyusuri jalan, entah di kota besar atau di kotaku sendiri, aku suka bertanya-tanya bagaimana pandangan orang terhadapku. Dunia kita ini terdiri atas berbagai stereotipe - masing-masing orang memakai sudut pandangnya sendiri sebagai tameng. Aneh, bukan, bahwa manusia merasa takut akan perbedaan? Tapi saat kita bersama-sama, aku tak pernah mempertanyakan pandangan orang. Itu tidak penting. Kamu pemuda Kolumbia, ramping dan tampan, dan menyukai sepak bola. Aku gadis berambut pirang, berkulit putih, murid sekolah Katolik yang mencintai seni dan mengarang. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang sepak bola.

Hidup terasa manis. Seperti halnya ada hari-hari cerah, ada pula hari-hari penuh badai. Kuperhatikan beberapa temanku mulai menjauh. Sahabat-sahabat karibku (meski beberapa di antaranya tidak setuju dengan hubungan berbeda bangsa) masih tetap suportif. Namun, beberapa yang menentang keras. Kucoba menjelaskan masalahku padamu, tapi aku tak sanggup bicara. Sungguh ironis, bukan, betapa orang yang pandai bicara mendadak jadi bisu pada saat-saat yang justru sangat penting? Aku tetap diam ketika situasinya semakin parah.

Kamu bertanya, apa yang semakin parah? Mula-mula orang-orang mulai melontarkan berbagai lelucon. Sungguh jahat mereka, tapi kuanggap kekejaman mereka diakibatkan oleh "ketidaktahuan". "Ketidaktahuan" ini kugunakan sebagai alasan, padahal kenyataannya sering kali ketidaktahuan itu merupakan pilihan.

Kejadian yang paling kuingat (bahkan sampai hari ini) adalah kejadian saat mata pelajaran kimia. Di lab kami mengadakan percobaan dengan bahan-bahan kimia, termasuk iodine. Kalau terkena iodine, kulit akan berubah jadi hitam atau cokelat gelap. Guru kami sudah memperingatkan tentang hal tersebut. Beliau tidak ingin seragam kami menjadi kotor.

Beberapa menit kemudian, kudengar seseorang berbicara dengan suara keras, mengatakan agar aku mengecat hitam kulitku, supaya sama dengan warna kulit pacarku. Aku tertegun.

Hanya itu yang ada di dalam benakku saat ini : kata-kata orang itu. Hampir setiap hari kudengar, kadang berulang kali, seperti mimpi buruk, atau kaset rusak. Kata-kata itu bukan kata-kata yang terlontar karena ketidaktahuan, melainkan karena kebencian. Dan itu membuatku sangat sedih, sangat sedih.

Tapi aku senang kita tidak membiarkan mereka menang. Lucu, bukan, bagaimana orang-orang mengubah hal sederhana dan indah - yakni cinta - menjadi suatu perjuangan? Sejujurnya kukatakan, dengan senang hati aku bersedia mengalami lagi malam-malam ketika aku menangis hingga tertidur. Persahabatan dari orang seperti dirimu jauh lebih berharga daripada semua itu... jauh, jauh lebih berharga.

Jadi mungkin, kita sudah menang. Aku tidak merasa malu mengatakan terus terang aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dan tidak penting bagiku apakah warna kulit-mu putih... hitam... atau ungu. Sebab, sahabatku, cinta tidak memandang warna. Cinta tidak memandang warna.

Susan A. Eldred

Rebels Six

Pada malam musim gugur itu kami duduk-duduk di tumpukan serpihan kayu. Aku dan sahabat karibku, Jon, bersantai sambil mengobrol tentang macam-macam hal yang ada di benak kami. Kami sudah lama sekali bersahabat karib, dan percakapan ini merupakan saat-saat penuh perenungan dan pembelajaran,

Tumpukan serpih-serpih ksyu itu berada di tempat pembuangan daun di dekat rumah. Di tempat inilah kami telah menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanak kami, membangun benteng-bentengan, naik sepeda balap, dan sekadar menjauhkan diri dari orang-orang. Tempat pembuangan ini ibarat kerajaan pribadi kami.

Kami mulai mengobrolkan hal-hal yang biasa kami lakukan dulu. Kami ingat, dulu kami berjalan kaki bersama-sama waktu pertama kali masuk SMA; bahkan kami ingat tahun-tahun kami semasa SMP. Semakin banyak mengobrol, semakin kami menyadari betapa cepat waktu berlalu, padahal dulu rasanya lama sekali. Dulu lingkungan sekitar rumah kami sangat menyenangkan, dengan adanya tempat pembuangan daun, sekolah, jalur sepeda BMX, bahkan lapangan golf tempat kami suka bermain menjadi tentara.

"Jon, kau ingat tidak, dulu orang-orang suka bilang mereka ingin sekali menjadi anak-anak seumuran kita lagi, sementara kita sendiri tidak mengerti kenapa bisa begitu?" Sekarang kami baru mengerti, mengapa orang-orang dewasa berkata demikian, dan betapa kami waktu itu tidak menghargai masa muda kami. Sementara percakapan kami berlanjut, aku jadi semakin marah dan frustasi. Aku terus berharap, andai aku bisa menghentikan perputaran waktu. Kini kami baru menyadari, betapa beruntungnya kami mempunyai teman-teman yang begitu karib, begitu banyak tempat menyenangkan dan begitu banyak kesempatan untuk bersenang-senang.

Selama bertahun-tahun kami memimpikan untuk tumbuh dewasa. Kami selalu menikmati saat-saat menyenangkan di pesta-pesta, tapi kami tidak pernah sepenuhnya senang. Kami selalu ingin menjadi anak-anak yang lebih besar, yang menyelenggarakan pesta-pesta itu. Kami ingin bisa menceritakan pada anak-anak yang lebih muda, apa saja yang kami lakukan waktu kami seumuran mereka.

Sekarang akhirnya keinginan itu telah menjadi kenyataan.Untuk sesaat rasanya senang sekali menyadari bahwa kakak-kakak kami sudah tidak ada lagi di rumah, dan sekarang kamilah yang menjadi anak-anak tertua. Sekarang kami sudah menyetir mobil kami sendiri, kami dijadikan anutan, kami yang menyelenggarakan pesta-pesta, dan kami dikagumi oleh anak-anak yang lebih muda.

Tapi perasaan yang membahagiakan ini hancur lebur begitu kami memikirkan tahun depan. Jon akan masuk korps Marinir Amerika Serikat, Ogar akan pindah ke kota, Carper akan masuk akademi yang jauhnya seratus mil dari sini, Reed dan Dart akan bekerja, sedangkan aku masih bersekolah. Ini tahun terakhir kami bersama-sama. Lambat laun sang waktu akan merampas masa kanak-kanak kami, dan kami akan menjadi laki-laki dewasa.

Pada titik inilah aku dan Jon bertekad untuk menjalani hidup ini sepenuhnya. Menjalani setiap saat sebagaimana adanya, bukan hanya karena saat ini sekadar batu loncatan untuk menuju saat berikutnya. Meski kami telah mengalami banyak saat-saat indah, setiap detik yang kami sia-siakan tidak akan pernah kembali, dan tahun depan kelompok Rebels Six akan menjadi sekadar enam pemberontak, masing-masing menempuh jalannya sendiri menuju ke kedewasaan. Meski persahabatan kami tetap bertahan, masa-masa untuk tumbuh dewasa bersama-sama dan menghabiskan waktu bersama-sama akan segera meninggalkan kami.

Semakin kupikirkan malam itu, semakin ingin aku mengumpulkan semua anak kecil yang ingin cepat-cepat dewasa. Ingin kukatakan kepada mereka agar menghargai dan menikmati setiap saat. Begitu banyak yang tidak mengerti betapa beruntungnya mereka.

Aku bukan bermaksud mengatakan bahwa masa-masa kuliah nanti tidak bakal menyenangkan. Hanya saja, sewaktu kami duduk bersama malam itu, aku jadi belajar menghargai apa yang kumiliki, dan menjalani setiap saat sepenuhnya.

Christopher Gubelmann




2 komentar:

Unknown mengatakan...

boleh minjem nih kykny heheh

bajuqueen.com

Isabella mengatakan...

@ re
iy re, dtg be kalo nk minjem. hehe

Posting Komentar